Puluhan Peserta Taklukkan Lima Porsi Nasi Lawar Misol
Adu Lahap 15 Menit, Kuliner Tradisional Buleleng Dikemas dalam Lomba Kreatif
SINGARAJA, SINGARAJANOW – Puluhan peserta meramaikan lomba makan nasi lawar yang digelar di Warung Nasi Lawar Misol, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng, Minggu (23/8). Dalam perlombaan tersebut, peserta ditantang menghabiskan lima porsi nasi campur babi dalam waktu 15 menit.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain menghadirkan suasana kompetitif dan menghibur, lomba tersebut juga membawa misi untuk memperkenalkan kuliner tradisional Bali, khususnya lawar khas Buleleng, kepada generasi muda.
Sebanyak 23 peserta ambil bagian dalam perlombaan. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Buleleng, tetapi juga terdapat dua peserta yang datang dari Denpasar.
Setiap peserta mendapatkan lima porsi nasi campur babi yang terdiri atas nasi, lawar putih, lawar plek, paru goreng, serapah, serta komoh atau kuah. Seluruh sajian tersebut memiliki cita rasa khas Warung Nasi Lawar Misol.
Waktu 15 menit menjadi tantangan utama bagi para peserta. Mereka harus menyantap makanan sebanyak mungkin hingga batas waktu berakhir. Peserta yang tidak mampu menghabiskan seluruh hidangan tetap diperbolehkan berhenti, sementara jumlah makanan yang berhasil dihabiskan menjadi bagian dari penilaian.
Sebelum mengikuti perlombaan, seluruh peserta juga menjalani pemeriksaan kesehatan di lokasi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan peserta berada dalam kondisi yang layak mengikuti lomba.
Penyelenggara sekaligus pemilik Warung Lawar Misol, Gede Fajar Satriawan, mengatakan lomba tersebut tidak hanya bertujuan mencari peserta dengan kemampuan makan paling banyak. Menurutnya, kegiatan itu sengaja dikemas sebagai sarana untuk memperkenalkan kembali kuliner tradisional kepada generasi muda.
Fajar melihat perubahan pola konsumsi generasi muda yang kini semakin dekat dengan makanan praktis dan frozen food sebagai bagian dari perkembangan zaman. Namun, menurutnya, keberadaan kuliner tradisional tetap harus dijaga agar tidak tergerus oleh perubahan selera.
“Kami ingin generasi muda tetap mengenal makanan tradisional. Sekarang banyak yang lebih mengenal makanan praktis dan frozen food. Itu tidak masalah, tetapi kuliner seperti lawar juga harus terus diperkenalkan dan diwariskan,” ujar Fajar.
Ia menjelaskan, lawar tidak hanya memiliki nilai sebagai makanan, tetapi juga mengandung unsur kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Bali. Proses membuat dan menyajikan lawar selama ini erat dengan semangat gotong royong serta menjadi bagian dari interaksi sosial masyarakat.
“Lawar bukan sekadar makanan. Ada semangat gotong royong dan kebersamaan di dalamnya. Makanan ini juga bisa menjadi sarana untuk merekatkan hubungan. Karena itu kami ingin generasi muda tetap mengenal lawar,” katanya.
Fajar juga menekankan bahwa lawar di setiap daerah di Bali memiliki karakter masing-masing. Khusus lawar khas Buleleng, terdapat sejumlah ciri yang membedakannya, baik dari bahan maupun racikan bumbu.
Salah satunya adalah lawar nyuh yang menggunakan daging cincang dan sayur kacang panjang. Racikan tersebut kemudian dipadukan dengan bumbu berbahan dasar suna cekuh serta bumbu genep rajang.
“Setiap kabupaten memiliki ciri khas lawarnya masing-masing. Buleleng juga mempunyai karakter tersendiri, mulai dari bahan yang digunakan sampai racikan bumbunya,” jelas Fajar.
Selain menjadi ajang memperkenalkan kuliner lokal, perlombaan tersebut juga menyediakan hadiah bagi para pemenang. Juara pertama memperoleh Rp1,5 juta, juara kedua Rp1 juta, dan juara ketiga Rp700.000. Sementara peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp100.000.
Salah seorang peserta, Komang Aditrayasa dari Desa Suwug, Kecamatan Sawan, mengaku baru pertama kali mengikuti lomba makan. Dalam perlombaan tersebut, ia berhasil menghabiskan tiga porsi.
Aditrayasa mengatakan salah satu tantangan yang dirasakan adalah ketika menyantap lawar plek dalam jumlah banyak. Meski demikian, ia menilai seluruh sajian yang diberikan memiliki cita rasa yang enak.
Peserta lainnya, Kadek Bayu Suteja asal Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, juga baru pertama kali mengikuti lomba makan lawar. Ia masih menyisakan sekitar satu setengah porsi ketika waktu perlombaan berakhir.
Bayu mengaku mulai mengalami kesulitan ketika memasuki porsi ketiga. Kendati demikian, ia tetap menikmati hidangan yang disajikan, terlebih dirinya memang menyukai lawar.
Bayu yang sehari-hari menekuni olahraga muaythai mengaku lomba tersebut menjadi pengalaman berbeda. Biasanya ia harus menjaga pola makan ketika mengikuti pertandingan, sedangkan dalam perlombaan tersebut justru ditantang menyantap makanan dalam jumlah banyak.
“Kalau ikut lomba muaythai biasanya diet. Sekarang tidak ada lomba, rasanya seperti balas dendam makan banyak,” ujar Bayu sembari tertawa.
Melalui kegiatan tersebut, Warung Nasi Lawar Misol berharap kuliner tradisional Buleleng tidak hanya bertahan sebagai sajian yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga dapat terus diperkenalkan melalui kegiatan kreatif yang dekat dengan masyarakat.
“Harapan kami sederhana, lawar tetap dikenal dan dicintai. Bukan hanya oleh generasi yang sudah terbiasa makan lawar, tetapi juga oleh anak-anak muda. Kalau mereka mengenal rasanya dan tahu cerita di balik makanan ini, tentu akan lebih mudah bagi kita untuk menjaga kuliner tradisional Buleleng,” pungkas Fajar.