Supriatna Dorong Pemuda Buleleng Jadikan Kemerdekaan sebagai Energi untuk Berkarya dan Berkontribusi
Wabup Buleleng menilai generasi muda harus mampu memanfaatkan kebebasan di era digital untuk mengembangkan kapasitas, menghasilkan karya, serta memberi manfaat bagi masyarakat.
SINGARAJA, SINGARAJANOW— Semangat kemerdekaan di tengah generasi muda dinilai perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Bagi Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, kemerdekaan pada masa kini bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana pemuda memiliki kemampuan, kreativitas, dan keberanian untuk mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Supriatna ketika membuka Focus Group Discussion (FGD) bersama Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) se-Kabupaten Buleleng, Senin (31/8). Kegiatan yang mengangkat tema “Merdeka Versi Generasi Muda: Berdaya, Berkarya dan Berdampak” tersebut berlangsung di Ruang Seminar Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial (FHIS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja.
Supriatna mengatakan tema FGD tersebut sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Menurutnya, pemuda memiliki ruang yang luas untuk menentukan arah masa depan melalui pendidikan, kreativitas, teknologi, organisasi, maupun berbagai kegiatan sosial.
Ia menjelaskan, makna berdaya dapat diwujudkan ketika pemuda memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, integritas, serta rasa percaya diri untuk terlibat dalam berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya.
Sementara berkarya, menurutnya, merupakan keberanian untuk mengembangkan ide, kreativitas, inovasi, dan kemampuan menjadi sesuatu yang memiliki nilai. Namun, sebuah karya idealnya tidak berhenti pada pencapaian pribadi, melainkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas.
“Yang paling penting, merdeka untuk berdampak. Artinya, setiap karya dan gagasan tidak berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, daerah dan bangsa,” tegas Supriatna.
Pemuda dan Tantangan Demokrasi Digital
Selain berbicara mengenai kreativitas, Supriatna memberikan perhatian khusus terhadap peran pemuda dalam menjaga kehidupan demokrasi. Menurutnya, kualitas demokrasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan generasi muda dalam menggunakan hak politik secara cerdas dan bertanggung jawab.
Perkembangan teknologi informasi membuat generasi muda memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai informasi. Namun, kondisi tersebut juga membawa tantangan berupa penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, provokasi, hingga praktik politik uang.
Karena itu, Supriatna mengajak pemuda Buleleng untuk tidak mudah mempercayai informasi yang beredar sebelum memastikan kebenarannya. Media sosial, kata dia, semestinya dimanfaatkan sebagai ruang produktif untuk berbagi gagasan dan membangun kolaborasi.
“Jangan gunakan media sosial untuk memecah persatuan. Gunakan ruang digital sebagai ruang untuk berkarya, berdiskusi, berkolaborasi, dan menyebarkan energi positif,” ajaknya.
Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesadaran terhadap hukum dan etika. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti bebas mengabaikan tanggung jawab.
“Kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab. Ketika menyampaikan pendapat, kita harus tetap memperhatikan etika. Ketika berekspresi, ada tanggung jawab yang harus dijaga. Begitu pula dalam menggunakan teknologi, harus memahami batas-batas hukum,” ujarnya.
Supriatna menekankan bahwa karakter pemuda juga menjadi faktor penting dalam menjaga kehidupan sosial. Generasi muda diharapkan tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian, menghargai perbedaan, memahami aturan, serta mampu menjaga semangat persatuan dan gotong royong.
FGD Diharapkan Melahirkan Aksi
Menurut Supriatna, membangun kapasitas generasi muda bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan pemerintah sendirian. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari lembaga pendidikan, KPU, Bawaslu, organisasi kepemudaan, partai politik, dunia usaha, media, keluarga, hingga masyarakat.
Dalam konteks tersebut, keberadaan FGD menjadi ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pandangan sekaligus menggali gagasan yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Ia berharap forum bersama OKP tidak sekadar menjadi kegiatan diskusi tanpa tindak lanjut. Berbagai gagasan yang muncul diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program maupun gerakan yang memberikan manfaat bagi generasi muda dan pembangunan Buleleng.
“Saya berharap dari forum ini lahir gagasan-gagasan segar yang dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata, bukan berhenti sebagai diskusi. Mari kita berikan ruang kepada generasi muda untuk tumbuh, berkreasi, berinovasi, dan mengambil keputusan,” kata Supriatna.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Buleleng yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, forum seperti ini penting untuk memperkuat komunikasi sekaligus memperluas ruang partisipasi pemuda dalam pembangunan daerah.
“Pemuda harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi. Pemerintah tentu membutuhkan ide, energi, dan kreativitas generasi muda. Karena itu, ruang partisipasi harus terus dibuka agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menentukan arah pembangunan,” tambahnya.
FGD tersebut menghadirkan Ketua KPU Provinsi Bali I Dewa Agung Gede Lidartawan dan Dekan FHIS Universitas Pendidikan Ganesha Prof. Dr. I Nengah Suastika sebagai narasumber.
Kegiatan diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) se-Kabupaten Buleleng.
Melalui forum tersebut, generasi muda Buleleng diharapkan semakin memahami bahwa kemerdekaan memiliki makna yang luas. Kebebasan yang dimiliki harus diisi dengan kemampuan untuk berkembang, keberanian menghasilkan karya, serta kemauan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah.
Dengan demikian, semangat kemerdekaan tidak hanya menjadi perayaan setiap tahun, tetapi diwujudkan melalui peran aktif generasi muda dalam membangun Buleleng yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing.