
SINGARAJA – Keterlibatan perempuan, khususnya ibu rumah tangga, dinilai memiliki peran krusial dalam mendorong keberhasilan program Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) di Kabupaten Buleleng. Hal tersebut disampaikan Ny. Wardhany Sutjidra saat menjadi narasumber dalam podcast “Petuah Ngopi: Penegak Peraturan Daerah Ngobrol Pintar dan Inspiratif” yang digelar di Ruang Sekretariat PKK Buleleng, Selasa (28/4).
Dalam perbincangan tersebut, ia menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah. Justru, penanganan paling efektif dimulai dari lingkup keluarga sebagai sumber awal sampah dihasilkan. Pemilahan antara sampah organik dan anorganik sejak dari rumah menjadi langkah mendasar dalam mengurangi beban sampah ke TPA.
“Jika pemilahan sampah dilakukan sejak dari rumah, baik organik maupun anorganik, maka hingga 65 persen persoalan sampah sebenarnya sudah bisa diselesaikan di tingkat masyarakat. Sisanya baru menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, PSBS atau “Pelemahan Kedas Desaku Bersih Tanpa Mengotori Desa Lain” mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri melalui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Sampah organik diolah langsung di rumah tangga, sementara sampah anorganik dikelola lebih lanjut melalui fasilitas seperti TPS3R.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan di masyarakat, terutama terkait kebiasaan lama yang belum berubah. Pola pengelolaan sampah tanpa pemilahan masih sering terjadi karena kurangnya kesadaran dan kedisiplinan.
“Ini bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga soal kesadaran dan karakter. Tanpa perubahan pola pikir dan ketegasan dalam penegakan aturan, persoalan sampah akan terus berulang,” tegasnya.
Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan keluarga. Sebagai pengelola rumah tangga sekaligus pendidik pertama bagi anak, perempuan dapat menanamkan budaya disiplin dalam mengelola sampah sejak dini.
Momentum Hari Kartini pun dimanfaatkan untuk mendorong perempuan agar semakin aktif berperan dalam menjaga lingkungan. Ia menilai peran ibu rumah tangga memiliki kontribusi besar terhadap terciptanya lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
“Perempuan adalah pendidik pertama di keluarga. Dari rumah tangga yang disiplin mengelola sampah, akan lahir lingkungan yang bersih dan sehat,” tambahnya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk berperan aktif dalam mendukung program pemerintah, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dari tingkat paling kecil.
“Buleleng yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama. Mulai dari rumah, mulai dari diri sendiri,” ujarnya.
Selain membahas pengelolaan sampah, dalam podcast tersebut Ny. Wardhany juga menjelaskan bahwa Posyandu kini telah berkembang menjadi layanan berbasis enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang tidak hanya mencakup bidang kesehatan, tetapi juga sektor pendidikan, pekerjaan umum, hingga ketentraman dan ketertiban masyarakat.
Di sisi lain, PKK terus diperkuat sebagai mitra strategis pemerintah dalam pemberdayaan keluarga. Program-program PKK dinilai mampu memberikan dampak langsung dalam membangun keluarga yang mandiri, sejahtera, dan berkualitas.
Di akhir sesi, ia berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan, sekaligus aktif memanfaatkan layanan Posyandu dan program PKK sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup.
