Dulu Cuma Lewat, Kini Singaraja Punya Alasan untuk Disinggahi
Penataan Praja Mandala Singa Ambara Raja mengubah cara orang menikmati ruang kota. Dari sekadar jalur yang dilintasi, kawasan ini kini menjadi tempat berswafoto, bercengkerama, dan mengenang jejak panjang sejarah Singaraja.
Lima tahun lalu, bagi Made Suastika (36), Kota Singaraja hanyalah bagian dari perjalanan.
Sebagai sopir travel asal Kabupaten Tabanan, hampir dua kali dalam sepekan ia melintasi kawasan depan Kantor Bupati Buleleng saat mengantar wisatawan menuju Lovina. Jalan tersebut sudah begitu akrab baginya. Namun, selama bertahun-tahun, Singaraja hanya menjadi kota yang dilewati.
Tak ada alasan baginya untuk berhenti.
Kini, kebiasaan itu berubah.
Setelah kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja ditata, Suastika mulai meluangkan waktu untuk berhenti, terutama ketika sore hingga petang. Seusai mengantar wisatawan ke Lovina, ia sesekali kembali ke kawasan tersebut untuk sekadar menikmati suasana.
Sudah sekitar empat kali ia menyempatkan diri singgah.
“Dulu saya hanya lewat dan tidak pernah singgah. Namun, setelah kawasan ini ditata, kalau sore atau petang, setelah mengantar wisatawan, saya menyempatkan diri berhenti sebentar,” ujar Suastika.
Baginya, perubahan Singaraja tidak hanya terlihat dari bangunan dan fasilitas yang semakin tertata. Yang lebih terasa adalah perubahan cara masyarakat menggunakan ruang kota.
Dulu orang datang karena memiliki tujuan tertentu. Kini, orang datang karena ingin menikmati suasana.
Dari tempat ia berhenti, Suastika melihat remaja putra-putri datang, berswafoto, bercengkerama, dan menikmati waktu sore.
“Sekarang kalau sore atau petang, saya lihat banyak remaja putra-putri yang datang, berswafoto dan menikmati suasana,” katanya.
Kisah serupa datang dari Ketut Seni Amelia (24), warga Desa Pemaron yang kini merantau di Denpasar.
Dalam perjalanan pulang dari Denpasar menuju kampung halaman, Amelia sebelumnya hanya melewati pusat Kota Singaraja. Perjalanan menuju utara biasanya berlangsung tanpa banyak alasan untuk berhenti.
Namun, wajah baru kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja perlahan mengubah kebiasaan tersebut.
“Dulu biasanya cuma lewat. Sekarang kalau sore rasanya ingin berhenti sebentar,” ujarnya.
Bukan sekadar untuk beristirahat. Amelia justru tertarik dengan suasana kota lama yang masih terasa di kawasan tersebut.
Deretan bangunan tua, ruang terbuka, dan kawasan yang semakin tertata membuatnya memiliki alasan untuk mengabadikan momen. Baginya, suasana tersebut memberikan pengalaman berbeda dari ruang kota modern.
“Rasanya seperti melihat suasana kota lama. Apalagi kalau sore, bagus untuk foto,” katanya.
Perhatiannya tertuju pada Gedung Kantor Bupati Buleleng, Gedung Laksmi Graha hingga Gedung Galeri UMKM. Bangunan-bangunan tersebut menurutnya memiliki karakter yang membuat kawasan itu terasa berbeda.
“Menurut cerita para tetua yang saya dengar, bentuk Gedung Kantor Bupati ini masih sama seperti dahulu,” ujarnya.
Di mata Amelia, bangunan lama bukan sesuatu yang harus disingkirkan ketika kota berkembang. Justru jejak masa lalu itulah yang memberikan karakter bagi Singaraja.
Kota yang Dibentuk Banyak Lapisan Sejarah
Cerita tentang perubahan wajah Singaraja tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja.
Sejarawan sekaligus dosen sejarah Undiksha Singaraja, I Made Pageh, menjelaskan kawasan di sisi barat Singaraja tersebut memiliki keterkaitan dengan tata kota peninggalan kolonial Belanda.
Sebelum keberadaan tugu Singa Ambara Raja seperti sekarang, terdapat sebuah pohon besar yang menjadi salah satu penanda kawasan.
“Titik nol kotanya memang dibuat oleh Belanda di situ. Dulu di sebelah barat patung Singa itu ada pohon kayu besar. Di sana ada kilometer nol,” jelas Pageh.
Titik tersebut menjadi bagian dari sistem penentuan jarak geografis pada masa kolonial. Dari kawasan itu, jarak menuju berbagai wilayah diperhitungkan.
Namun, Singaraja tidak dibentuk oleh satu sejarah saja.
Di sisi timur terdapat kawasan Catur Pata yang memiliki konteks berbeda dalam tata ruang tradisional Bali dan sejarah Kerajaan Buleleng. Karena itu, pusat Kota Singaraja sebenarnya merupakan pertemuan berbagai lapisan zaman—mulai dari tata ruang kerajaan, tradisi Bali, hingga perencanaan kota kolonial.
Tugu Singa Ambara Raja sendiri hadir pada masa setelah kolonial dan kemudian berkembang menjadi salah satu simbol Kota Singaraja.
Sementara di sekelilingnya masih berdiri bangunan-bangunan yang menyimpan cerita masa lalu.
Salah satunya adalah Gedung Kantor Bupati Buleleng.
“Kantor Bupati itu masih dari zaman Belanda. Dulu itu kantor Residen Bali dan Lombok,” ujar Pageh.
Bangunan tersebut menjadi saksi ketika Singaraja pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial untuk wilayah Bali dan Lombok.
Tak jauh dari kawasan tersebut, terdapat pula jejak bekas Raad van Kerta atau gedung pengadilan pada masa kolonial.
“Itu bangunan bersejarah yang dihilangkan. Itu Gedung Raad van Kerta, Gedung Pengadilan Bali Lombok,” katanya.
Jejak yang tersisa mengingatkan bahwa kawasan ini bukan ruang kota yang baru muncul hari ini. Ia telah mengalami perjalanan panjang, dengan fungsi dan wajah yang terus berubah mengikuti zamannya.
Dari Pusat Pemerintahan Menjadi Ruang Publik
Perubahan paling menarik justru terjadi pada fungsi ruang.
Pageh menjelaskan, pada masa kolonial, kawasan sekitar Praja Mandala Singa Ambara Raja tidak dirancang sebagai tempat masyarakat berkumpul dan menghabiskan waktu seperti sekarang.
Kawasan tersebut lebih berkaitan dengan pusat pemerintahan serta kepentingan pengawasan kota.
Kini, fungsi itu bergeser.
Pedestrian membuat orang lebih nyaman berjalan. Ruang terbuka memberikan tempat untuk duduk dan bersantai. Lampu-lampu kawasan menghadirkan suasana berbeda ketika sore berganti malam.
Remaja datang untuk berswafoto. Pengunjung bercengkerama. Pelintas yang sebelumnya hanya meneruskan perjalanan mulai memperlambat langkah.
Bagi Pageh, perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan kota yang tidak bisa dilepaskan dari zaman.
“Kalau di titik nol sekarang dijadikan meriah, itu kaitannya dengan era globalisasi, era kapitalisme, era pariwisata untuk mendapatkan uang,” ujarnya.
Namun, menurutnya, menghidupkan kawasan tidak cukup hanya dengan menghadirkan keramaian.
Identitas sejarah tetap harus menjadi bagian dari wajah baru Singaraja.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah keberadaan sempadan kolonial. Ruang yang dahulu menjadi bagian dari struktur tata kota tersebut kini banyak yang telah hilang akibat perkembangan pembangunan.
Padahal, menurut Pageh, sempadan itu memiliki fungsi penting, termasuk memberikan pandangan ke arah Pelabuhan Buleleng dan membantu melihat kedatangan kapal yang hendak berlabuh di Pelabuhan Tua Buleleng.
“Keindahan Kota Singaraja adalah jika dikembalikan sempadan kolonial itu,” katanya.
Menata Kota, Menghidupkan Kembali Ruang
Di sisi lain, penataan Praja Mandala Singa Ambara Raja memang dirancang bukan hanya untuk mempercantik kawasan.
Kepala Dinas PUTR Perkim Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra, menjelaskan pembenahan dimulai dari kebutuhan dasar yang kerap luput dari perhatian, yakni sistem drainase.
Drainase dibenahi untuk mengurangi beban genangan ketika hujan deras. Setelah itu, penataan dilanjutkan dengan pembangunan pedestrian, bangku taman, ruang publik, lampu hias, hingga pemindahan jaringan kabel ke bawah tanah.
Konsep kawasan juga tidak dilepaskan dari karakter lokal.
Penataan memadukan unsur arsitektur tradisional Bali dengan nilai lokal Buleleng melalui konsep Palemahan Kauh dan Palemahan Kangin sebagai simbol keseimbangan.
Material lokal digunakan, sementara seniman Buleleng turut dilibatkan dalam pengerjaan berbagai ornamen kawasan.
“Dengan dukungan anggaran sekitar Rp24 miliar, penataan kawasan dikerjakan kurang lebih 4,5 bulan, dimulai pada Februari 2026,” jelas Adiptha.
Kini, hasil penataan itu mulai terlihat bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dari perubahan perilaku orang-orang yang berada di dalamnya.
Suastika yang dulu hanya mengenal kawasan itu sebagai jalur menuju Lovina, kini memilih berhenti.
Amelia yang sebelumnya hanya melewati Singaraja, kini memiliki keinginan untuk mengabadikan suasana kota lama.
Dua pengalaman sederhana itu memperlihatkan satu perubahan penting: ruang kota mulai kembali digunakan untuk manusia.
Singaraja tidak sekadar menjadi kota yang dilewati dalam perjalanan menuju destinasi lain. Ia mulai menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.
Di sore hari, ketika lampu-lampu mulai menyala dan aktivitas warga perlahan meningkat, Praja Mandala Singa Ambara Raja menghadirkan wajah Singaraja yang berbeda.
Wajah baru yang tidak harus melupakan wajah lamanya.
Sebab di balik pedestrian, ruang publik dan bangunan yang semakin tertata, masih ada cerita panjang tentang sebuah kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan, persinggungan budaya, sekaligus simpul sejarah Bali Utara.
Dan kini, setelah sekian lama hanya dilewati, Singaraja mulai punya alasan untuk disinggahi.