Wabup Gede Supriatna Apresiasi Metatah Massal di Desa Adat Cempaga, Ringankan Beban Krama

SHARE
Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna menghadiri sekaligus memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan upacara metatah (potong gigi) , Senin (20/4)

SINGARAJA, SINGARAJANOW, – Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, menghadiri sekaligus memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan upacara metatah (potong gigi) massal yang berlangsung di Wantilan Desa Adat Cempaga, Senin (20/4).

Kegiatan ini dinilai membawa manfaat besar bagi masyarakat, terutama dalam membantu meringankan biaya pelaksanaan upacara yang menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Hindu, khususnya di Buleleng.

Dalam sambutannya, Supriatna menegaskan bahwa metatah merupakan upacara sakral yang memiliki filosofi mendalam sebagai simbol proses pendewasaan diri. Selain itu, ritual ini juga dimaknai sebagai upaya pengendalian enam sifat negatif dalam diri manusia yang dikenal sebagai Sad Ripu.

Menurutnya, pelaksanaan metatah secara massal menjadi langkah positif karena tidak hanya mengurangi beban biaya masyarakat, tetapi juga tetap menjaga esensi kesucian dari yadnya tersebut. Ia pun mengapresiasi panitia serta seluruh pihak yang telah berinisiatif menyelenggarakan kegiatan ini.

Supriatna menambahkan, semangat gotong royong dan kolaborasi yang ditunjukkan dalam kegiatan ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan adat dan budaya di tengah perkembangan zaman.

Pemerintah Kabupaten Buleleng, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan adat dan keagamaan, termasuk pelaksanaan upacara secara kolektif yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Ia berharap, melalui kegiatan metatah massal ini, semakin banyak pihak yang terdorong untuk berpartisipasi, sehingga masyarakat dapat menjalankan kewajiban adat dan keagamaan dengan lebih ringan tanpa mengurangi nilai dan kesakralannya.

Sementara itu, Ketua Panitia I Nyoman Sukanata menjelaskan bahwa metatah massal ini merupakan program Desa Adat yang bertujuan membantu krama dalam melaksanakan Manusa Yadnya, khususnya upacara potong gigi. Kegiatan ini dirancang dan dilaksanakan oleh prajuru desa adat bersama krama sebagai wujud kebersamaan dan kepedulian sosial.

Ia menambahkan, pendanaan kegiatan sebagian besar berasal dari kontribusi peserta metatah dengan iuran sebesar Rp500.000 per orang. Total peserta yang mengikuti upacara ini mencapai 125 orang.

“Berkat kebersamaan krama serta dukungan desa adat, kegiatan metatah massal ini dapat terlaksana dengan baik tanpa mengurangi makna dan kesakralan yadnya,” tutupnya.