Rabies Masih Mengancam, DPRD Buleleng Minta Penambahan Dokter Hewan

SHARE

SINGARAJA, SINGARAJANOW – DPRD Buleleng menyoroti masih terbatasnya jumlah dokter hewan di Kabupaten Buleleng di tengah tingginya ancaman penyebaran rabies.

Kondisi tersebut dinilai mempengaruhi optimalisasi penanganan kesehatan hewan, terutama setelah kasus gigitan anjing yang menyebabkan 19 warga Kelurahan Banyuning menjadi korban beberapa waktu lalu.

Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya, meminta pemerintah daerah segera mengusulkan penambahan formasi dokter hewan kepada pemerintah pusat.

Menurutnya, kebutuhan tenaga dokter hewan di Buleleng saat ini belum sebanding dengan luas wilayah serta tingginya populasi hewan yang membutuhkan pengawasan kesehatan secara rutin.Persoalan tersebut semakin menjadi perhatian setelah muncul kasus gigitan anjing di Banyuning yang memicu kekhawatiran terhadap ancaman rabies.

Dhukajaya menilai kondisi itu membutuhkan langkah penanganan yang lebih serius dan sistematis dari pemerintah daerah.“Dengan jumlah dokter hewan yang masih terbatas saat ini, tentu perlu ada penambahan tenaga.

Bukan hanya untuk penanganan anjing, tetapi juga hewan lainnya karena populasinya terus bertambah. Penambahan formasi dokter hewan sangat penting,” ujarnya usai melakukan kunjungan ke Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Distan KP) Buleleng, Selasa, (19/5).

Ia menjelaskan, rabies merupakan penyakit zoonosis yang berbahaya dan dapat mengancam keselamatan masyarakat apabila tidak ditangani dengan cepat.

Karena itu, pemerintah daerah diminta memperkuat langkah pengendalian melalui vaksinasi massal, sterilisasi hewan, pendataan populasi anjing, serta edukasi kepada masyarakat.

Menurut Dhukajaya, kebutuhan dokter hewan lapangan di Kabupaten Buleleng masih jauh dari ideal. Ia menyebut setiap kecamatan seharusnya memiliki minimal empat hingga lima dokter hewan agar pelayanan kesehatan hewan dapat berjalan maksimal.

Saat ini, Kabupaten Buleleng tercatat hanya memiliki 21 dokter hewan. Sebanyak 18 orang bertugas di pusat kesehatan hewan (Puskeswan), sedangkan tiga lainnya bertugas di dinas terkait.

“Kebutuhan tenaga dokter hewan cukup besar untuk mendukung sektor peternakan dan pengendalian penyakit hewan.

Dokter hewan mandiri juga perlu dilibatkan. Kalau ideal, Buleleng membutuhkan sekitar 36 dokter hewan lapangan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan pihaknya terus melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat guna meningkatkan kewaspadaan terhadap rabies.Ia mengimbau masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan hewan peliharaan dengan rutin memberikan vaksin rabies setiap tahun.

“Kami berharap masyarakat lebih bertanggung jawab terhadap hewan peliharaannya, khususnya anjing.

Kalau tahun ini sudah divaksin, tahun berikutnya harus divaksin kembali,” ujarnya.

Melandrat menjelaskan, pencarian terhadap anjing yang menggigit 19 warga Banyuning masih terus dilakukan bersama aparat kelurahan dan relawan.

Namun hingga kini, hewan tersebut belum berhasil ditemukan.

Meski demikian, seluruh korban dipastikan telah mendapatkan vaksin anti rabies (VAR) sebagai langkah pencegahan awal terhadap penularan rabies.Selain itu, Distan KP Buleleng bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dijadwalkan melaksanakan vaksinasi massal hewan penular rabies pada Sabtu, 23 Mei 2026 mendatang.

“Kami berharap masyarakat membawa anjing peliharaannya ke lokasi vaksinasi. Kalau tidak memungkinkan, kami akan turun langsung door to door, walaupun tentu akan lebih berat,” jelasnya.

Ia mengakui keterbatasan tenaga dokter hewan masih menjadi tantangan di lapangan. Apalagi selain menangani vaksinasi rabies, petugas juga harus menjalankan vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak.

Saat ini populasi anjing di Kabupaten Buleleng diperkirakan mencapai lebih dari 24 ribu ekor. Meski jumlah tenaga terbatas, program vaksinasi rabies disebut tetap berjalan di seluruh kecamatan sejak awal tahun.

“Di setiap kecamatan minimal ada dua dokter hewan yang bertugas.

Namun memang beban kerja cukup tinggi karena selain vaksin rabies, kami juga menangani vaksinasi PMK,” pungkas Melandrat.