HIMA Prodi Filsafat Hindu IAHN Mpu Kuturan Gelar Dialektika, Soroti Isu Lingkungan dan Kesadaran Ekoteologi

SHARE

SINGARAJA, SINGARAJANOW, – 20 April 2026 — Himpunan Mahasiswa (HIMA) Program Studi Filsafat Hindu IAHN Mpu Kuturan kembali menggelar kegiatan akademik bertajuk Dialektika di Aula Rektorat kampus, Senin (20/4). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-10 HIMA Prodi Filsafat Hindu dengan mengusung tema “Adhyasa: Melangkah dengan Keyakinan untuk Mewujudkan Harapan.”

Acara diawali dengan pembukaan secara seremonial oleh MC, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta doa bersama. Panitia kemudian menyampaikan laporan kegiatan yang menegaskan tujuan pelaksanaan dialektika sebagai ruang diskusi ilmiah guna mengembangkan pola pikir kritis mahasiswa.

Sambutan disampaikan oleh Ketua Program Studi Filsafat Hindu, Dr. I Made Gami Sandi Untara. Dalam sambutannya, ia menyoroti berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata, seperti meningkatnya bencana banjir, persoalan pengelolaan sampah, hingga tantangan ketersediaan air bersih. Ia menegaskan bahwa krisis lingkungan bukan semata persoalan teknis, melainkan persoalan cara pandang manusia terhadap alam.

“Bagaimana kita memaknai alam akan menentukan bagaimana kita memperlakukannya—apakah sebagai objek yang dikuasai atau sebagai bagian kehidupan yang harus dijaga,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengaitkan isu tersebut dengan kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia yang menetapkan ekoteologi sebagai program prioritas nasional (Asta Protas) periode 2025–2029 yang digagas oleh Nasaruddin Umar. Hal ini menunjukkan bahwa relasi manusia dan alam juga merupakan persoalan spiritual dan moral.

Memasuki inti kegiatan, peserta mengikuti sesi pemaparan materi oleh narasumber Dr. Komang Anik Sugiani dengan moderator Putu Sinta Prathiwiningsih. Dalam materinya yang bertajuk “Palemahan: Dominasi atau Harmoni”, narasumber menjelaskan dua pola relasi manusia dengan alam, yakni dominasi dan harmoni.

Dominasi terhadap alam, menurutnya, menjadi salah satu penyebab utama berbagai kerusakan lingkungan seperti penumpukan sampah, banjir, dan rusaknya ekosistem. Sebaliknya, pendekatan harmoni menekankan keseimbangan serta tanggung jawab manusia dalam menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan.

Selain itu, narasumber juga mengajak peserta untuk memulai langkah sederhana dalam menjaga lingkungan, seperti memilah sampah, melakukan daur ulang, serta membangun kebiasaan hidup ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Mahasiswa secara aktif menyampaikan pertanyaan, pendapat, serta refleksi kritis terkait isu lingkungan yang diangkat. Suasana semakin dinamis ketika memasuki sesi dialektika berupa debat akademik pro dan kontra antar mahasiswa yang berjalan kritis, argumentatif, namun tetap kondusif.

Kegiatan Dialektika ini ditutup dengan pesan reflektif dari narasumber yang menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan.

“Jadilah generasi pemberi solusi, bukan generasi pencaci maki,” tegasnya.

Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusiasme. Melalui forum ini, mahasiswa diharapkan semakin memiliki kesadaran ekologis serta kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi persoalan sosial dan lingkungan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen HIMA Prodi Filsafat Hindu dalam membangun budaya akademik yang kritis, reflektif, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.