Buleleng Tuan Rumah BIRF 2026, Festival Internasional Digelar 10–15 Maret

SHARE
Dokumentasi foto bersama Panitia BRIF 2026

SINGARAJA, SINGARAJANOW – Kabupaten Buleleng kembali dipercaya menjadi tuan rumah Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) 2026, yang akan berlangsung pada 10–15 Maret mendatang. Festival budaya internasional ini menjadi penyelenggaraan ketiga secara berturut-turut dan dinilai sebagai bukti meningkatnya pengakuan dunia terhadap Bali Utara sebagai panggung budaya global.
Direktur International Organization of Folk Art (IOV) UNESCO Indonesia Wilayah Bali, I Gusti Ngurah Eka Prasetya (Gus Eka), menyatakan kepercayaan tersebut mencerminkan konsistensi Buleleng dalam merawat dan mempromosikan seni tradisi melalui diplomasi budaya. Pernyataan itu disampaikan saat konferensi pers di Puri Kanginan, Sabtu (14/2).


Menurut Gus Eka, peserta dijadwalkan tiba pada 10 Maret, kegiatan inti berlangsung 11–14 Maret, dan kepulangan pada 15 Maret. Festival tahun ini akan menghadirkan seniman, budayawan, dan akademisi dari enam negara yang akan memperkenalkan budaya masing-masing sekaligus melakukan pertukaran pengetahuan lintas negara melalui seni dan ritme tradisional dunia.


Penyelenggaraan BIRF merupakan kolaborasi International Organization of Folk Art Indonesia bersama unsur anggota UNESCO di Bali, dengan Yayasan Sanggar Seni Santi Budaya sebagai penggerak utama. Selama tiga kali pelaksanaan, kegiatan ini juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Buleleng dan Puri Kangenan Buleleng.
Dukungan akademik datang dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang berperan sebagai penyelenggara program kegiatan. Keterlibatan kampus dinilai memperkuat aspek pendidikan dan riset serta membuka ruang partisipasi generasi muda dalam promosi budaya.


Selain pertunjukan seni, delegasi internasional dijadwalkan mengikuti kunjungan budaya dan destinasi wisata di Bali. Dampak festival disebut tidak hanya dirasakan di Buleleng, tetapi juga mendorong pergerakan wisatawan dan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.


Pelibatan masyarakat menjadi salah satu fokus kegiatan. Desa Wisata Panji dan Desa Wisata Kalibukbuk dilibatkan melalui pengenalan budaya lokal dan wisata menonton lumba-lumba. Sejumlah pelaku UMKM turut ambil bagian, termasuk produk olahan sorgum dari Desa Panji serta kerajinan ulatan bambu dari Desa Tigawasa.
Festival juga akan menggelar workshop budaya di sejumlah sekolah dan lembaga pendidikan, di antaranya SMA Negeri 1 Singaraja dan SMK Negeri 1 Sawan. Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan delegasi internasional dengan pelajar dan mahasiswa dalam pertukaran budaya secara langsung.


Gus Eka berharap BIRF mampu memperkuat wisata edukasi dan konservasi budaya sekaligus meningkatkan kepercayaan diri masyarakat lokal terhadap warisan budayanya. Kolaborasi antara UNESCO, IOV Indonesia, Yayasan Sanggar Seni Santi Budaya, pemerintah daerah, unsur puri, dan Undiksha diharapkan menjadi momentum penting untuk menegaskan Bali Utara sebagai pusat budaya dunia.