19.10.2026

657 Mahasiswa Institut Mpu Kuturan Siap Mengabdi di 23 Desa, Ekoteologi Jadi Fokus KKN 2026

0
image

Selama dua bulan di Banjar dan Busungbiu, mahasiswa didorong mengembangkan ekonomi keumatan, memperkuat layanan widyalaya dan pasraman, serta menyelaraskan program dengan kebutuhan masyarakat.

SINGARAJA, SINGARAJANOW – Pengabdian mahasiswa kepada masyarakat tidak cukup berhenti pada pelaksanaan program kerja. Lebih dari itu, kehadiran mahasiswa di desa diharapkan mampu menjawab kebutuhan warga sekaligus mendorong penguatan potensi lokal. Semangat tersebut menjadi arah pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Mpu Kuturan tahun 2026 yang melibatkan 657 mahasiswa di 23 desa di Kecamatan Banjar dan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.

Selama dua bulan, mahasiswa akan menjalankan program yang berfokus pada penguatan ekoteologi, pengembangan ekonomi keumatan, serta peningkatan layanan widyalaya dan pasraman. Pelaksanaan KKN ini juga menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan dan potensi yang berkembang di tengah masyarakat.

Program KKN Institut Mpu Kuturan tahun ini dirancang melalui sinergi dengan KKN Tematik Provinsi Bali dan Asta Protas Kementerian Agama. Meski mengacu pada agenda pembangunan yang lebih luas, pelaksanaannya tetap mempertimbangkan karakteristik, potensi, serta kebutuhan masing-masing desa. Mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi peluang dan menyusun kegiatan yang relevan dengan kondisi masyarakat setempat.

Koordinasi juga dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Buleleng agar kegiatan mahasiswa dapat berjalan selaras dengan arah pembangunan daerah. Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, dijadwalkan menghadiri sekaligus memberikan pembekalan kepada peserta dalam acara pelepasan KKN pada 21 September 2026.

Kepastian rencana kehadiran Bupati tersebut diperoleh setelah pimpinan Institut Mpu Kuturan bersama panitia KKN melakukan audiensi di Kantor Bupati Buleleng beberapa waktu lalu. Pertemuan itu menjadi bagian dari komunikasi dan koordinasi untuk menyelaraskan program pengabdian mahasiswa dengan prioritas pembangunan yang tengah dijalankan pemerintah daerah.

Pembekalan dari pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih luas kepada mahasiswa mengenai arah dan prioritas pembangunan di Kabupaten Buleleng. Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan mampu merancang kegiatan yang tidak hanya sesuai dengan agenda pembangunan, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata masyarakat di lokasi KKN.

Rektor Institut Mpu Kuturan, Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A., menegaskan bahwa KKN merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu sekaligus memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Menurutnya, keberhasilan program pengabdian tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari kesesuaian program dengan kebutuhan desa.

“Program KKN perlu disusun berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing desa. Mahasiswa tidak hanya datang untuk melaksanakan kegiatan, tetapi juga perlu membangun komunikasi dan sinergi dengan pemerintah desa serta masyarakat,” ujar Suwindia.

Ia menjelaskan, penyelarasan dengan KKN Tematik Provinsi Bali dan Asta Protas Kementerian Agama bertujuan agar program mahasiswa memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan yang lebih luas. Namun, pendekatan yang diterapkan tidak berarti seluruh desa harus menjalankan kegiatan yang sama.

Setiap desa, kata Suwindia, memiliki karakteristik, potensi, dan persoalan yang berbeda. Karena itu, mahasiswa perlu menjalin komunikasi dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk menentukan program yang sesuai dengan kondisi serta agenda yang telah disepakati bersama.

“Yang kita harapkan bukan program yang seragam di setiap desa. Setiap desa memiliki karakter, potensi, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, mahasiswa perlu menyesuaikan programnya dengan agenda yang telah disusun bersama pemerintah desa dan masyarakat,” katanya.

Lebih jauh, Suwindia menyebut KKN sebagai bagian penting dari proses pembelajaran di luar kampus. Interaksi langsung dengan masyarakat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami persoalan sosial dan pembangunan melalui pengalaman nyata, sekaligus melatih kemampuan membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

“Mahasiswa membawa ilmu dari kampus, tetapi pada saat yang sama mereka juga harus belajar dari masyarakat. KKN menjadi ruang untuk membangun kerja sama, memahami persoalan di lapangan, dan menerapkan pengetahuan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Melalui pelaksanaan KKN 2026, Institut Mpu Kuturan berharap kehadiran 657 mahasiswa di 23 desa dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat. Penguatan ekoteologi, ekonomi keumatan, serta layanan widyalaya dan pasraman diharapkan menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal. (rls/ard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *