
SINGARAJA, SINGARAJANOW – Pemerintah Kabupaten Buleleng semakin serius mewujudkan Singaraja sebagai kota pendidikan di Bali Utara. Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra saat membuka Buleleng Education Expo (BEE) 2026 di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja, Rabu (20/5).
Menurut Bupati Sutjidra, penyelenggaraan BEE bukan sekadar agenda pameran pendidikan, melainkan menjadi pijakan awal dalam membangun sistem pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan di Kabupaten Buleleng.
Filosofi Lebah Jadi Semangat Pendidikan
Dalam sambutannya, Sutjidra menjelaskan bahwa konsep BEE terinspirasi dari filosofi lebah yang dikenal rajin bekerja dan mampu menghasilkan madu yang bermanfaat bagi kehidupan. Filosofi tersebut diharapkan dapat menjadi semangat bersama dalam memajukan dunia pendidikan.
“Lebah itu pekerja keras tetapi bisa menghasilkan madu sebagai nutrisi yang sangat baik. Itu filosofinya. Ini menjadi awal dari rencana kita mendeklarasikan Singaraja sebagai kota pendidikan,” ujar Sutjidra.
Ia menekankan, rencana deklarasi Singaraja sebagai kota pendidikan harus dipersiapkan secara matang, tidak hanya sebatas slogan semata. Pemerintah daerah akan menyiapkan sarana pendukung, regulasi, hingga kajian akademis sebagai dasar implementasi program tersebut.
Libatkan Akademisi dan Psikolog
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Buleleng dalam waktu dekat akan menggelar focus group discussion (FGD) yang melibatkan akademisi dan psikolog untuk menyusun konsep pengembangan kota pendidikan secara komprehensif.
Menurutnya, keberadaan Singaraja sebagai kota pendidikan nantinya diharapkan mampu memberikan akses pendidikan yang lengkap bagi masyarakat, mulai dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi.
“Pada saat deklarasi dan implementasi nanti, Buleleng betul-betul menjadi tempat anak-anak mendapatkan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK sampai perguruan tinggi,” katanya.
Revitalisasi 80 Sekolah Jadi Prioritas
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan, Pemkab Buleleng tahun ini melaksanakan revitalisasi terhadap 80 sekolah. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 59 sekolah.
Revitalisasi diprioritaskan untuk sekolah-sekolah dengan kondisi rusak berat agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih nyaman dan aman.
“Ada sekolah yang bocor, tidak punya pintu, kalau hujan kehujanan dan kalau angin kedinginan. Itu yang kita prioritaskan untuk ditangani,” ungkapnya.
Bantuan Seragam Gratis Tekan Angka Putus Sekolah
Selain pembenahan infrastruktur, Pemkab Buleleng juga melanjutkan program bantuan seragam gratis bagi siswa kurang mampu dan yatim piatu.
Program tersebut dinilai penting untuk membantu meringankan beban keluarga sekaligus menekan angka putus sekolah.
“Paling tidak anak-anak yang malu ke sekolah karena tidak punya seragam, tas, atau sepatu bisa kita tangani.
Dengan pemberian seragam ini mereka lebih bersemangat datang ke sekolah,” pungkas Bupati Sutjidra.
