
DENPASAR, SINGARAJANOW – Bali kembali menjadi referensi pengembangan pariwisata internasional. Gubernur Bali Wayan Koster menerima kunjungan resmi Gubernur Siquijor, Filipina, di Jayasabha, Denpasar, Minggu (10/5/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda studi banding Pemerintah Provinsi Siquijor untuk mempelajari model pembangunan berbasis pariwisata yang diterapkan di Bali.
Sebagai salah satu provinsi kepulauan di Filipina, Siquijor saat ini tengah fokus mengembangkan sektor wisata sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Provinsi yang dikenal sebagai wilayah terkecil ketiga di Filipina itu menjadikan Bali sebagai salah satu contoh keberhasilan pengelolaan destinasi wisata dunia.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Siquijor menyampaikan minatnya untuk mempelajari strategi pembangunan yang dijalankan Pemerintah Provinsi Bali, terutama terkait keseimbangan antara pertumbuhan kunjungan wisatawan dengan keberlanjutan lingkungan dan budaya lokal.
Selain bertukar informasi terkait kebijakan, delegasi Siquijor juga memaparkan kondisi wilayahnya yang memiliki luas sekitar 343,5 kilometer persegi dengan populasi kurang lebih 120 ribu jiwa.
Beberapa tantangan yang dihadapi Siquijor turut menjadi pembahasan, mulai dari keterbatasan akses transportasi hingga persoalan ketahanan pangan.
Wilayah tersebut diketahui hanya dapat diakses melalui kapal feri dan pesawat ringan, sehingga konektivitas menjadi salah satu hambatan utama pengembangan.
Selain itu, keterbatasan lahan pertanian membuat kebutuhan pangan di Siquijor masih banyak dipasok dari luar wilayah.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Wayan Koster membagikan pengalaman Bali dalam memperkuat sektor pariwisata melalui pembangunan infrastruktur penunjang dan berbagai kebijakan strategis.
“Kami mendiskusikan langkah-langkah pengembangan infrastruktur transportasi, sistem pengelolaan sampah, hingga kebijakan pendukung lainnya yang selama ini menjadi tulang punggung pariwisata Bali,” ujar Koster.
Pemerintah Siquijor berharap hasil studi banding ini dapat menjadi referensi dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang sesuai dengan karakteristik daerah mereka.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol penguatan hubungan kerja sama antarwilayah di kawasan Asia Tenggara.
