
SINGARAJA – Komitmen menghadirkan ruang diskusi yang kritis dan solutif terhadap persoalan sosial kembali ditunjukkan KEDASIH Bali Utara melalui forum bertema “Suara dari Bali Utara: Melawan Senyap Kekerasan Seksual” pada Kamis , 16/4/2026.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber berkompeten. IPDA I Gede Pratama selaku Kaur Binops Satreskrim Polres Buleleng mengulas pentingnya perspektif penegakan hukum serta urgensi pelaporan dalam kasus kekerasan seksual. Sementara itu, Dr. Ni Putu Rai Yuliartini, S.H., M.H, pendiri Yayasan Yulia Natya Nivriti, memberikan pemaparan terkait pendampingan korban serta pentingnya keberanian untuk bersuara.
Diskusi tersebut diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai organisasi dan komunitas, seperti BEM Rema Undiksha, GMNI, KMHD YBV Undiksha, Genre Buleleng, Jegeg Bagus Buleleng, sejumlah BEM fakultas, penyuluh agama Hindu, penyuluh Bahasa Bali, hingga jajaran PC KMHDI Buleleng.
Melalui forum ini, peserta diajak menyadari bahwa kekerasan seksual bukan persoalan yang bisa diabaikan. Diperlukan keberanian, solidaritas, serta kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan penanganannya.
Dalam diskusi tersebut, terungkap sejumlah poin penting. Kasus kekerasan seksual di Buleleng dinilai mengalami peningkatan, termasuk adanya temuan kasus baru di sebuah lembaga berbasis yayasan. Hal ini memperkuat urgensi sosialisasi terkait pemahaman bentuk-bentuk kekerasan seksual kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan.
Selain itu, peserta juga menyoroti pentingnya edukasi sejak dini, terutama karena potensi kekerasan dapat menyasar anak-anak. Regulasi sebenarnya telah tersedia, namun diperlukan upaya lebih untuk mendekatkan pemahaman tersebut hingga ke tingkat keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan sertifikat penghargaan kepada para narasumber. Acara ini turut dihadiri Ketua KEDASIH Bali Utara, I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H, yang juga merupakan penggagas program diskusi tersebut. Forum ini rutin digelar setiap rahina Tilem di Wantilan Pura Agung Jagatnatha Buleleng.
Dalam pandangannya, I Kadek Satria menyampaikan bahwa kekerasan seksual dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik eksternal maupun internal. Faktor lingkungan, minimnya pengetahuan, serta lemahnya komunikasi antara anak dan orang tua menjadi pemicu dari sisi eksternal.
Sementara itu, dari sisi internal, kondisi individu yang rentan serta perilaku pelaku yang dipengaruhi karakter dan dominasi tertentu juga menjadi penyebab.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat posisi Buleleng sebagai kota pendidikan dengan dukungan infrastruktur yang memadai, sehingga akses terhadap ilmu pengetahuan semakin terbuka dan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat.
Lebih lanjut, ia mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap yayasan maupun panti asuhan, guna memastikan seluruh lembaga memiliki standar kelayakan dan ramah anak. Sertifikasi serta pelatihan bagi pengelola dinilai penting untuk meminimalisir risiko terjadinya kekerasan seksual.
Program KEDASIH sendiri merupakan inisiatif yang lahir dari keinginan menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi positif bagi generasi muda, khususnya pada momentum keagamaan seperti Tilem dan Purnama. Melalui kolaborasi antara Penyuluh Agama Hindu dan PC KMHDI Buleleng, forum ini diharapkan mampu menjadi wadah edukasi sekaligus refleksi bagi anak muda agar tidak hanya berfokus pada ritual, tetapi juga penguatan wawasan dan kesadaran sosial.
