Final Dharma Wacana dan Geguritan, Utsawa Jnananing Sad Dharma III Perkuat Karakter Generasi Muda Hindu
Dharma Tula tentang stunting dan pesan pelestarian lingkungan turut mewarnai hari kedua Utsawa Jnananing Sad Dharma #3 Tahun 2026 di Buleleng.
SINGARAJA, SINGARAJANOW – Babak final Lomba Dharma Wacana dan Geguritan menjadi agenda utama hari kedua Utsawa Jnananing Sad Dharma #3 Tahun 2026, Kamis (8/10). Kegiatan yang berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 ini menjadi wadah bagi generasi muda Hindu di Kabupaten Buleleng untuk mengembangkan kemampuan keagamaan, mengasah potensi seni budaya, serta memperkuat karakter berlandaskan Dharma.
Babak final Dharma Wacana diikuti 20 peserta tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Buleleng setelah sebelumnya melewati penyisihan secara virtual. Para finalis tampil menyampaikan materi keagamaan Hindu dengan percaya diri, sekaligus mengangkat nilai-nilai Dharma yang relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.
Kepala Seksi Urusan Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng mengapresiasi tingginya antusiasme para peserta. Menurutnya, Utsawa Jnananing Sad Dharma tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap agama Hindu, seni, dan budaya Bali.
“Dengan adanya Utsawa Jnananing Sad Dharma yang ketiga ini, sangat diapresiasi oleh para yowana, utamanya anak-anak sekolah dasar dan menengah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembinaan generasi muda menjadi sasaran utama kegiatan tersebut, terutama untuk memperkuat karakter dan memperdalam pemahaman agama Hindu. Ia juga mengapresiasi para Penyuluh Agama Hindu yang telah menghadirkan inovasi melalui penyelenggaraan Utsawa Jnananing Sad Dharma.
“Dari lomba ini tentu kita akan menghasilkan generasi yang hebat di bidang agama. Tahun yang akan datang kita gali kembali dan kita ciptakan yang lebih baik lagi,” katanya.
Pada cabang Geguritan, sebanyak 20 peserta tingkat SMP se-Kabupaten Buleleng juga tampil pada babak final. Para peserta menunjukkan kemampuan membawakan karya sastra Bali melalui penghayatan, ekspresi, dan pelafalan yang baik. Perlombaan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sastra dan tradisi Bali agar tetap dikenal serta diminati generasi muda.
Selain perlombaan, hari kedua Utsawa turut diisi Dharma Tula dengan tema stunting. Narasumber dari BKKBN memberikan edukasi mengenai pentingnya pencegahan stunting dan upaya membangun generasi yang sehat serta berkualitas. Pembahasan tersebut mengajak peserta memahami peran keluarga, penerapan pola hidup sehat, dan kepedulian bersama dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng menekankan bahwa Utsawa Jnananing Sad Dharma memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perlombaan. Kegiatan ini dinilai sebagai bagian dari proses menyiapkan fondasi keagamaan dan karakter bagi generasi muda agar mampu menghadapi tantangan kehidupan serta persaingan di tengah perkembangan dunia global.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita menyiapkan fondasi yang baik kepada generasi-generasi muda kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep Sad Dharma dalam ajaran Hindu merupakan cara atau tahapan untuk mempelajari Dharma. Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan memperoleh ruang pembelajaran untuk memperdalam nilai-nilai keagamaan, membangun karakter, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Penguatan karakter tersebut juga dikaitkan dengan program prioritas Kementerian Agama melalui pendekatan ekoteologi. Menurut Kepala Kantor Kemenag Buleleng, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Oleh karena itu, kesadaran menjaga keseimbangan hubungan tersebut perlu ditanamkan sejak dini.
Pesan itu sejalan dengan tema Utsawa tahun ini, “Yowana Amertaning Bhumi”, yang menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam menjaga kelestarian bumi. Kepedulian terhadap lingkungan diharapkan tidak berhenti sebagai kewajiban, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan rumah, sekolah, hingga lingkungan sekitar.
Kesadaran tersebut dinilai semakin penting di tengah berbagai persoalan lingkungan, seperti pemanasan global, kekeringan, dan perubahan kondisi iklim. Generasi muda diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai kepedulian lingkungan melalui tindakan nyata di lingkungan terdekat.
Kepala Kantor Kemenag Buleleng berharap Utsawa Jnananing Sad Dharma dapat terus berlanjut dan berkembang pada tahun-tahun mendatang. Keberlanjutan kegiatan ini dinilai penting agar pembinaan generasi muda Hindu tidak berhenti pada satu momentum perlombaan. Sinergi dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, pemerintah daerah, DPRD Kabupaten Buleleng, dan pemangku kepentingan lainnya juga diharapkan semakin kuat.
“Harapan saya, Utsawa Jnananing Sad Dharma ini terus berjalan. Ini satu hal yang sangat baik untuk memberi fondasi kepada anak-anak kita ke depannya,” ungkapnya.
Hasil akhir perlombaan Dharma Wacana menetapkan I Gede Widi Artha dari SMK Negeri Bali Mandara sebagai juara I sekaligus juara favorit. Juara II diraih Komang Merry Suciariani dari SMA Negeri 2 Singaraja, sedangkan juara III diraih Dewa Ayu Bintang Pradnyani dari SMA Negeri Bali Mandara.
Sementara itu, pada lomba Geguritan, juara I diraih Gede Kori Adyatama dan Komang Tubuh Adnyana dari SMP Negeri 1 Kubutambahan. Juara II diraih Ketut Damyanta Lesmana dan Kadek Soni Pasek Sutariawan dari SMP Negeri 3 Sawan. Juara III diraih Komang Krisna Dwipayana dan Kadek Reza Dwitama Riana dari SMP Negeri 8 Singaraja. Adapun juara favorit diraih Qianna Lintang Prameswari dan Ngurah Kadek Ganda Paramarta Wiguna dari SMP Lab Undiksha Singaraja.
Melalui rangkaian perlombaan, edukasi, dan penguatan nilai lingkungan, Utsawa Jnananing Sad Dharma III Tahun 2026 diharapkan menjadi ruang pembinaan yang berkelanjutan untuk melahirkan generasi muda Hindu yang berprestasi, berbudaya, berkarakter, serta mampu mengamalkan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari.