Berawal dari Kempo, Ni Komang Sri Ariani Ukir Prestasi di Arena Wushu
Dari latihan bela diri sejak kecil hingga meraih podium tingkat Bali, mahasiswa Institut Mpu Kuturan ini terus mengasah kemampuan di tengah kesibukan kuliah dan latihan.
SINGARAJA, SINGARAJANOW– Perjalanan meraih prestasi tidak selalu berawal dari bidang yang sama. Bagi Ni Komang Sri Ariani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Dharma Acarya, Institut Mpu Kuturan (IMK), pengalaman panjang menekuni kempo justru menjadi bekal untuk berkembang di cabang olahraga wushu. Berbekal ketekunan dan kemauan beradaptasi, perempuan asal Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, ini kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara III kategori 52–56 kg Senior Putri pada Piala Bupati Badung Bali Wushu Tournament 2026.
Kejuaraan yang berlangsung pada 10–13 September 2026 di GOR Purna Krida, Bali, tersebut menjadi panggung bagi Ariani untuk menunjukkan kemampuannya bersama Kontingen Wushu Kabupaten Buleleng. Ia harus bersaing dengan atlet dari berbagai daerah sebelum akhirnya membawa pulang posisi ketiga.
Lahir di Sepang pada 11 Maret 2007, Ariani bukanlah sosok yang asing dengan dunia bela diri. Sebelum beralih ke wushu sekitar tiga tahun lalu, ia telah menghabiskan kurang lebih 12 tahun untuk menekuni kempo. Ketertarikannya terhadap olahraga tersebut tumbuh dari lingkungan keluarga, terutama sang ayah yang berprofesi sebagai pelatih kempo.
Pengalaman bertahun-tahun di kempo menjadi fondasi penting bagi Ariani. Meski demikian, perpindahan ke wushu bukan tanpa tantangan. Ia harus mempelajari karakter pertandingan dan menyesuaikan diri dengan sistem penilaian yang berbeda dari olahraga yang sebelumnya ditekuni.
“Awalnya memang cukup sulit beradaptasi karena sistem penilaiannya berbeda dengan kempo. Namun, seiring waktu, saya mulai terbiasa dan semakin menikmati wushu,” ungkap Ariani.
Proses adaptasi itu perlahan membuahkan hasil. Medali perunggu pada Piala Bupati Badung Bali Wushu Tournament 2026 menambah catatan prestasinya di cabang olahraga tersebut. Sebelumnya, pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali XVI Tahun 2025 yang berlangsung pada 9–17 September 2025, Ariani juga berhasil meraih Juara III Wushu Sanda kelas 56 kg Putri.
Dua pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan Ariani dalam membangun kemampuan sebagai atlet wushu. Pengalamannya di kempo turut memberinya dasar dalam menjalani latihan, sementara proses belajar di cabang baru menuntutnya untuk terus memperbaiki teknik dan memahami pola pertandingan.
Menjaga Keseimbangan Kuliah dan Latihan
Di luar arena pertandingan, Ariani juga menjalani tanggung jawab sebagai mahasiswa semester III kelas III D. Aktivitas perkuliahan dan latihan yang sama-sama berlangsung lima kali dalam seminggu membuatnya harus cermat mengatur waktu.
Tidak jarang jadwal yang padat membuatnya merasa kewalahan. Namun, ia berupaya menjaga keduanya tetap berjalan beriringan. Bagi Ariani, pendidikan dan olahraga merupakan dua hal yang sama-sama penting sehingga membutuhkan kedisiplinan, komitmen, serta kemampuan menentukan prioritas.
Menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus atlet juga menjadi ruang pembelajaran di luar materi perkuliahan. Ia dituntut untuk lebih disiplin terhadap jadwal, menjaga konsistensi latihan, dan tetap memenuhi kewajiban akademik di tengah persiapan menghadapi kompetisi.
“Menjadi mahasiswa sekaligus atlet tentu membutuhkan pengaturan waktu yang baik. Saya ingin tetap menjalankan kuliah dengan maksimal, tetapi juga tidak meninggalkan latihan. Keduanya harus dijalani dengan disiplin agar bisa berkembang bersama,” ujarnya.
Ke depan, Ariani berharap dapat meningkatkan kemampuan dan meraih hasil yang lebih baik pada kejuaraan berikutnya. Salah satu target yang ingin diwujudkannya adalah memperoleh kesempatan tampil di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Wushu. Target tersebut menjadi dorongan baginya untuk terus berlatih, mengevaluasi kekurangan, dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan di tingkat yang lebih tinggi.
Perjalanan Ariani menunjukkan bahwa prestasi membutuhkan proses yang panjang. Pengalaman selama belasan tahun di kempo, keberanian mencoba cabang olahraga baru, serta kesungguhannya membagi waktu menjadi bagian dari upaya untuk terus berkembang.
Capaian ini sekaligus memperlihatkan bahwa mahasiswa memiliki kesempatan untuk bertumbuh melalui berbagai jalur, baik akademik maupun nonakademik. Konsistensi Ariani di arena wushu diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa Fakultas Dharma Acarya Institut Mpu Kuturan lainnya untuk berani mengembangkan potensi, menekuni minat, dan mengambil kesempatan berkompetisi guna meraih prestasi.
Bagi Ariani, podium yang diraihnya bukanlah akhir perjalanan, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh. Dengan semangat belajar dan latihan yang terus dijaga, ia berupaya membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita, selama ada kemauan untuk berusaha dan menjaga komitmen.