01.09.2026

Bulfest 2026 Hadirkan Kembali Cerita Buleleng Masa Lampau

0
image

Bulfest 2026 mengajak masyarakat bernostalgia dengan mengangkat kembali kisah, budaya, dan suasana Buleleng di masa lampau dalam balutan pertunjukan yang kreatif dan penuh warna.

SINGARAJA, SINGARAJANOW – Buleleng Festival (Bulfest) 2026 dikemas sebagai ruang untuk kembali mengenal wajah Buleleng pada masa lalu. Festival yang berlangsung 18–23 Agustus 2026 ini tidak hanya menawarkan berbagai pertunjukan, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya melalui makanan tradisional, kesenian, cerita sejarah, dan atmosfer Buleleng tempo dulu.

Mengusung tema “Uriping Rasa”, Bulfest tahun ini memiliki pesan untuk menghidupkan kembali rasa terhadap cerita, identitas, dan warisan Buleleng. Nilai-nilai tersebut kemudian dipertemukan dengan kreativitas serta dinamika masyarakat masa kini.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menuturkan, Bulfest yang telah berlangsung sejak 2013 terus bertransformasi. Namun, perkembangan tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga karakter dan kekayaan budaya daerah.

“Bulfest bukan hanya soal bagaimana membuat sebuah festival menjadi ramai. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat kembali mengenal perjalanan dan kekayaan Buleleng, termasuk warisan masa lalu yang kita hadirkan dalam kegiatan ini,” ujar Sutjidra saat dialog interaktif di salah satu radio swasta, Kamis (13/8).

Salah satu kawasan yang akan menjadi pusat pengalaman nostalgia adalah Praja Mandala. Di lokasi tersebut, masyarakat dapat menemukan berbagai kuliner khas yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Buleleng, seperti laklak kelor, jukut buangit, undis, dan beragam makanan tradisional lainnya. Sajian siobak juga turut dihadirkan sebagai salah satu kuliner yang telah melekat dengan identitas Buleleng.

Menurut Sutjidra, menghadirkan kuliner tempo dulu memiliki makna lebih luas. Makanan menjadi pintu masuk untuk mengenang Buleleng sebagai daerah yang pada masa lalu berkembang sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan.

“Melalui makanan, seni, dan budaya, kita ingin mengajak masyarakat merasakan kembali bagaimana Buleleng dahulu. Karena itu, setiap kegiatan yang ditampilkan harus memiliki sentuhan khas Buleleng,” tegasnya.

Selain makanan, suasana masa lalu juga akan diperkuat dengan pertunjukan musik dan kesenian tradisional serta tenant yang membawa unsur adat Bali. Pemkab Buleleng juga melakukan penyaringan terhadap peserta UMKM agar produk yang hadir sesuai dengan konsep festival dan tetap memenuhi standar kualitas.

Khusus produk kuliner, kurasi dilakukan dengan memperhatikan kualitas bahan dan cara pengolahan. Pemerintah mendorong penggunaan bahan yang segar dan alami, bukan produk yang dibekukan atau diawetkan.

“Kami ingin rasa yang hadir benar-benar natural. Bahan yang digunakan juga diupayakan tetap segar sehingga cita rasa aslinya bisa dinikmati masyarakat,” ungkapnya.

Ketua Panitia Bulfest 2026, Putu Ariadi Pribadi, menjelaskan bahwa pelaksanaan festival dibagi ke dalam tiga kawasan dengan tema berbeda. Pembagian tersebut menjadi strategi untuk menghadirkan pengalaman yang lebih beragam bagi pengunjung.

Zona A yang berada di sisi utara Praja Mandala akan menjadi kawasan bernuansa Buleleng tempo dulu. Selain menghadirkan makanan tradisional dan kesenian, terdapat pula layar tancap serta rumah cerita yang dikemas sebagai ruang untuk mengenalkan kembali kisah-kisah Buleleng masa lampau.

Berbeda dengan Zona A, Zona B yang berada di sekitar Kantor DPRD dan Rumah Jabatan Bupati akan menampilkan konsep modern dan kreatif. Kawasan ini menjadi gambaran bagaimana budaya dan kreativitas dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sementara Zona C di kawasan Catus Pata mengedepankan konsep budaya berkelanjutan. Pertunjukan rakyat seperti joged dan bondres akan menjadi bagian dari hiburan di kawasan tersebut. Untuk panggung utama, seluruh rangkaian pertunjukan tetap dipusatkan di Praja Mandala.

Antusiasme UMKM untuk menjadi bagian dari Bulfest 2026 juga terbilang tinggi. Dari 309 UMKM yang mendaftarkan diri, sebanyak 87 pelaku usaha akhirnya ditetapkan sebagai peserta setelah melewati tahapan kurasi. Penilaian mencakup kualitas produk, menu, serta kesesuaian usaha dengan karakter zona yang ditempati.

Tidak hanya menawarkan wisata kuliner dan budaya, Bulfest 2026 juga menghadirkan beragam pertunjukan, mulai dari tari massal hingga fragmen. Penampilan Kla Project dari Yogyakarta menjadi salah satu agenda yang turut dinantikan masyarakat.

Ariadi menambahkan, persiapan teknis terus dilakukan agar seluruh rangkaian festival dapat berlangsung aman dan nyaman bagi pengunjung.

“Kami mengajak masyarakat untuk hadir dan ikut menikmati Bulfest. Semoga dukungan serta doa masyarakat Buleleng membuat seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Dari aspek pendanaan, sebagian besar kegiatan Bulfest 2026 memperoleh dukungan dari CSR. Sementara pembiayaan melalui APBD Kabupaten Buleleng diarahkan untuk kegiatan yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan.

Bulfest 2026 diharapkan mampu menjadi lebih dari sekadar agenda hiburan. Melalui konsep “Uriping Rasa”, festival ini menjadi sarana untuk merawat ingatan kolektif masyarakat, memperkenalkan kembali kekayaan Buleleng kepada generasi muda, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi tetap dapat hadir dan berkembang di tengah kehidupan modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *