TP PKK Buleleng Dorong Kesadaran Pengelolaan Sampah Lewat Gerakan Edukasi “RISE for Nation”

SHARE

SINGARAJA, SINGARAJANOW – Ketua TP PKK Kabupaten Buleleng, Ny. Wardhany Sutjidra membuka kegiatan bertajuk “RISE for Nation: Pendidikan Sebagai Kunci Kebangkitan dan Solusi Sampah” yang digelar RISE-Talks Singaraja bersama SMKN 1 Kubutambahan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Kegiatan berlangsung di Aula Yayasan Dana Punia, Banyuning, Sabtu (9/5).

Acara tersebut menjadi wadah edukasi sekaligus kolaborasi bagi generasi muda dan masyarakat dalam meningkatkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah melalui pendekatan pendidikan.

Dalam sambutannya, Ny. Wardhany Sutjidra menyampaikan penghargaan kepada Founder RISE-Talks Singaraja, pihak SMKN 1 Kubutambahan, dan seluruh panitia yang telah menginisiasi kegiatan inspiratif tersebut.

Ia menilai kegiatan itu bukan sekadar agenda peringatan, tetapi menjadi gerakan nyata dalam membangun kesadaran sosial dan kepedulian lingkungan.

Menurutnya, makna Hari Kebangkitan Nasional saat ini harus mampu diterjemahkan dalam aksi konkret, salah satunya melalui penguatan pendidikan dan kepedulian terhadap persoalan sampah yang menjadi tantangan bersama.

“Pendidikan adalah kunci lahirnya generasi masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepekaan sosial,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya menyangkut kebersihan lingkungan, tetapi berkaitan erat dengan tanggung jawab sosial dan peradaban masyarakat.

Karena itu, perubahan perlu dimulai dari lingkungan terdekat seperti rumah tangga, sekolah, dan komunitas.“Kebangkitan sejati bukan hanya tentang wacana, tetapi tentang aksi,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster menyampaikan bahwa sektor pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Ia menjelaskan, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kebiasaan positif, termasuk budaya memilah dan mengelola sampah sejak dini.

“Anak-anak harus dibiasakan memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab bersama demi masa depan Bali yang lestari dan berkelanjutan,” katanya.

Menurutnya, persoalan sampah tidak dapat lagi ditangani dengan pola lama yang hanya berfokus pada pengangkutan dan pembuangan.

Diperlukan perubahan pola pikir serta keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat, terutama dunia pendidikan, dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Ia berharap edukasi yang terus dilakukan mampu melahirkan generasi muda yang menjadi pelopor perubahan dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan bertanggung jawab terhadap alam.

“Ketika kesadaran mengelola sampah tumbuh dari rumah dan sekolah, maka kita sedang membangun peradaban yang lebih bertanggung jawab terhadap alam dan kehidupan di masa depan,” tutupnya.