SINGARAJA, SINGARAJANOW — Rangkaian Festival Seni, Adat, dan Budaya Sukasada (Festasada) 2026 resmi ditutup pada hari ketiga, Minggu (19/4/2026), di RTH Bung Karno, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Penutupan berlangsung meriah dengan suguhan seni, budaya, serta partisipasi masyarakat yang tinggi.
Salah satu penampilan yang memukau adalah Tari Winayaka, tarian kebesaran SMKN 1 Sukasada. Tarian ini tidak sekadar menampilkan keindahan gerak, tetapi merupakan persembahan suci kepada Dewa Ganesha sebagai simbol Sang Penghalau Rintangan. Setiap gerakan dalam Tari Winayaka mencerminkan harmoni antara kekuatan dan kebijaksanaan, menjadi doa agar setiap langkah dan niat baik senantiasa dimudahkan serta dijauhkan dari hambatan.

Selain itu, hadir pula Tari Burdah dari Desa Pegayaman, yang memperkaya nuansa budaya dalam penutupan Festasada. Tari Burdah merupakan kesenian religi Islam yang memadukan lantunan syair pujian dengan iringan rebana. Kesenian ini memiliki akar sejarah kuat yang berkaitan dengan perjalanan Kerajaan Buleleng.
Pada tahun 1648, I Gusti Anglurah Panji Sakti merekrut sekitar 100 laskar dari Blambangan (Jawa Timur) di bawah pimpinan Sri Aji Ngumpu Bukit Setebal, yang dikenal dengan tokoh Nur Alam, Nur Amin, dan Nur Mubin. Seni Burdah awalnya dihadirkan sebagai hiburan bagi para laskar setelah berjuang di medan perang, guna mengembalikan semangat mereka.
Seiring waktu, para laskar tersebut menetap dan menjadi cikal bakal masyarakat Desa Pegayaman (dahulu disebut Pegatepan). Dari sinilah berkembang tradisi Burdah sebagai identitas budaya masyarakat Muslim Bali yang dikenal dengan konsep Nyame Selam.
Tradisi ini menjadi bukti nyata akulturasi budaya yang harmonis serta kuatnya nilai toleransi yang telah terbangun di Buleleng sejak ratusan tahun lalu.

Penampilan Tari Winayaka dan Burdah di RTH Bung Karno menjadi simbol persatuan yang kuat, sejalan dengan fungsi ruang publik tersebut sebagai tempat berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat dalam semangat kebhinekaan.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pengumuman juara lomba Bahasa Bali, meliputi lomba mewarnai huruf Aksara Bali tingkat TK, lomba mesatua tingkat SD, serta lomba baca puisi Bahasa Bali. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya mengajegkan Bahasa Bali sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan.
Melalui lomba-lomba tersebut, generasi muda didorong untuk tidak hanya mengenal, tetapi juga mencintai dan menggunakan Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari. Pelestarian bahasa daerah menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi.
Dalam sambutan penutupan, Plt. Camat Sukasada, I Komang Budiarsana, SE, menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Festasada 2026.
“Kami mengapresiasi seluruh rangkaian kegiatan Festasada 2026, mulai dari pembukaan hingga penutupan yang berlangsung meriah. Partisipasi masyarakat sangat luar biasa, meskipun sempat bertepatan dengan rainan Tumpek Landep. Ini menunjukkan semangat kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat Sukasada,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pihak penyelenggara terbuka terhadap berbagai masukan dan kritik membangun dari masyarakat sebagai bahan evaluasi untuk penyelenggaraan Festasada yang lebih baik dan berkualitas di masa mendatang.
Selama tiga hari pelaksanaan, berbagai kegiatan seperti pawai obor, penampilan baleganjur SMAN 1 Sukasada, hingga senam bersama berhasil menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh semangat.
Di penghujung acara, suasana semakin semarak dengan penampilan guest star Bagus Wirata yang telah dinanti-nantikan oleh penonton. Meski sempat terjadi sedikit kendala teknis pada lagu ketiga, antusiasme masyarakat tetap tinggi hingga akhir pertunjukan.
Dengan berakhirnya Festasada 2026, diharapkan semangat pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, serta nilai persatuan dan toleransi terus tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat Sukasada.
