Dari Tamblingan, Bupati Buleleng Serukan Pertobatan Ekologis dan Perubahan Pola Kelola Sampah

SHARE
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di kawasan hulu Danau Tamblingan menjadi momentum mengajak masyarakat beraksi menghadapi krisis iklim melalui pelestarian lingkungan dan pengelolaan sampah dari sumbernya.

SINGARAJA, SINGARAJANOW – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pemerintah Kabupaten Buleleng menggelar aksi pelestarian lingkungan berskala besar di kawasan Danau Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Sabtu (6/6). Lokasi tersebut dipilih karena memiliki peran vital sebagai kawasan resapan air dan penyangga ekosistem yang menopang wilayah hilir di sekitarnya.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra hadir langsung memimpin apel dan membacakan amanat Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Republik Indonesia di hadapan ratusan peserta yang terdiri dari unsur pemerintah, instansi vertikal, serta berbagai komunitas pemerhati lingkungan.

Mengangkat tema nasional “Let’s Act Now for Climate: Saatnya Bekerja untuk Iklim”, peringatan tahun ini menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mengambil langkah nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam amanat Menteri Lingkungan Hidup yang dibacakan Bupati Sutjidra disebutkan bahwa dunia saat ini menghadapi tiga krisis besar atau triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap dampak dari krisis tersebut.

Data menunjukkan lebih dari 60 persen penduduk Indonesia bermukim di wilayah pesisir yang kini menghadapi ancaman kenaikan muka air laut. Selain itu, sekitar 90 persen bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan ekstrem yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian alam. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam harus dibarengi dengan upaya perlindungan dan perawatan lingkungan yang berkelanjutan.

“Kondisi bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Apa yang disampaikan oleh Bapak Menteri memang betul, kita harus mulai melakukan ‘pertobatan ekologis’. Selama bertahun-tahun kita mungkin tidak menyadari telah merusak alam ini. Mari kita bersama-sama, seluruh elemen masyarakat di mana pun berada, memulai langkah konkret ini demi keberlangsungan generasi mendatang,” tegas Bupati Sutjidra.

Ia juga menyoroti persoalan pengelolaan sampah rumah tangga yang masih menjadi tantangan di wilayah Buleleng. Menurutnya, perubahan pola pengelolaan sampah harus segera dilakukan melalui penguatan regulasi serta keterlibatan aktif masyarakat.

Bupati Sutjidra menilai pola lama “kumpul-angkut-buang” sudah tidak relevan dan perlu digantikan dengan sistem pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Masyarakat didorong untuk memisahkan sampah organik dan anorganik di lingkungan rumah tangga sebagai langkah awal menciptakan tata kelola sampah yang lebih baik.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan partisipasi aktif masyarakat, Kabupaten Buleleng diharapkan mampu menjadi contoh dalam upaya mitigasi perubahan iklim serta menjaga kelestarian alam Bali Utara untuk generasi mendatang.