IAHN Mpu Kuturan Siapkan Lulusan Mandiri, Wamenag Ingatkan Pentingnya Integritas
Tak hanya berorientasi pada dunia kerja formal, kampus membekali mahasiswa dengan kewirausahaan serta penguatan ilmu agama, adat, dan budaya.
SINGARAJA, SINGARAJANOW – Penguatan integritas dan kemampuan akademik menjadi pesan utama Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., kepada sivitas akademika Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja. Ia berharap perguruan tinggi tersebut terus melahirkan lulusan berkualitas yang mampu berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Pesan itu disampaikan Syafi’i saat menghadiri Wisuda II IAHN Mpu Kuturan di Gedung Kesenian Gde Manik, Singaraja, Jumat (23/10/2026). Pada kesempatan tersebut, ia turut memberikan apresiasi atas perkembangan institusi yang sebelumnya berstatus sekolah tinggi hingga kini menjadi institut.
Menurut Syafi’i, pencapaian tersebut menunjukkan adanya perkembangan kelembagaan yang patut diapresiasi sekaligus menjadi landasan untuk melangkah lebih jauh. Ia menilai peluang pengembangan IAHN Mpu Kuturan menuju universitas dapat menjadi bagian dari perjalanan peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
“Kita mendorong kepada segenap sivitas akademika untuk terus meningkatkan kemampuan keilmuan. Yang paling penting adalah menjaga integritas, baik pendidik maupun alumni, dan juga bisa memberikan kontribusi terhadap masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Syafi’i.
Ia juga menyampaikan harapan Presiden agar Indonesia didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki pendidikan memadai. Karena itu, perguruan tinggi dinilai mempunyai peran penting dalam mempersiapkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga sanggup mengambil bagian dalam pembangunan.
Sejalan dengan hal tersebut, Rektor IAHN Mpu Kuturan, Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A., menyampaikan bahwa kampus terus meninjau kualitas pendidikan melalui evaluasi berkala terhadap lulusan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah jumlah alumni yang berhasil terserap di dunia kerja.
Menurut Suwindia, hasil evaluasi menunjukkan sebagian besar lulusan sudah bekerja. Meski demikian, arah pendidikan IAHN Mpu Kuturan tidak hanya ditujukan untuk mencetak calon pegawai negeri. Mahasiswa juga dipersiapkan agar memiliki keberanian dan keterampilan dalam membangun usaha sendiri.
Ia menjelaskan, pembekalan kewirausahaan telah mendorong sejumlah mahasiswa merintis usaha mikro sebelum menyelesaikan studi. Potensi tersebut terutama berkembang pada bidang manajemen ekonomi, ilmu komunikasi, serta pariwisata budaya dan keagamaan.
“Kami sebenarnya punya mekanisme akreditasi, namanya evaluasi. Setiap tahun kita evaluasi, dari situ kita tahu berapa lulusan kami yang terserap. Sesungguhnya sebagian besar sudah bekerja, tetapi ide, gagasan, dan pendirian program studi bukan berorientasi pegawai negeri. Karena mereka dibekali entrepreneur,” kata Suwindia.
Lebih lanjut, ia menilai identitas akademik IAHN Mpu Kuturan menjadi kekuatan tersendiri karena berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan agama, adat, dan budaya. Kekhasan tersebut menjadi pembeda dibandingkan perguruan tinggi lain yang berada di Kabupaten Buleleng.
“Kami memiliki koor bisnis yang sedikit berbeda dengan perguruan tinggi yang ada di Buleleng. Karena agama budaya adalah bagian dari yang kami garap. Perbedaan itu yang membuat kami yakin akan tetap eksis. Dan tetap membangun agama adat dan budaya dari aspek ilmu pengetahuan,” ucapnya.
Komitmen untuk mengaplikasikan ilmu kepada masyarakat juga ditunjukkan oleh I Gusti Ajeng Ayu Bintang Lestarizky, wisudawan Program Studi Hukum Agama Hindu, Fakultas Dharma Sastra. Selama menjalani perkuliahan, ia mengaku memperoleh pengalaman akademik sekaligus mengembangkan keterampilan melalui organisasi kemahasiswaan.
Pengalaman tersebut membantunya meningkatkan kepercayaan diri, melatih manajemen waktu, serta mengembangkan kemampuan sosial. Ia juga merasakan bahwa pembelajaran hukum di bangku kuliah memberinya pemahaman yang lebih mendalam daripada sekadar melihat persoalan dari sudut pandang masyarakat.
“Pendidikan bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk berdampak kepada masyarakat nantinya,” ujar Bintang.
Bintang berencana menerapkan ilmu yang telah diperolehnya melalui kegiatan pengabdian masyarakat, termasuk berbagi pengetahuan di pasraman di Jembrana, daerah tempat asalnya. Ia ingin menjadikan pendidikan sebagai sarana berbagi manfaat dan memperkuat pemahaman masyarakat.
“Dari apa yang sudah saya dapatkan, saya ingin berbagi kepada teman-teman melalui pengabdian dan melalui pasraman yang mungkin nantinya yang ada khususnya di Jembrana tempat asal saya. Jadi di rumah juga sudah ada pasraman yang nantinya kita bisa berbagi bersama, bahwasanya pendidikan bukan hanya untuk diri saya sendiri tapi untuk berdampak kepada masyarakat nantinya,” kata Bintang.
Wisuda II IAHN Mpu Kuturan tahun ini mengusung tema “The Miracle Hitangkara, Generasi Unggul Wujudkan Harmoni Semesta”. Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., Asisten I Setda Buleleng Putu Ariadi, dan Ketua Komisi IV DPRD Buleleng Nyoman Sukarmen.
Total 693 lulusan mengikuti wisuda tersebut, terdiri atas 146 lulusan Pascasarjana, 309 lulusan Fakultas Dharma Acarya, 151 lulusan Fakultas Dharma Duta, 38 lulusan Fakultas Brahma Widya, serta 49 lulusan Fakultas Dharma Sastra.