19.10.2026

Kreativitas Gede Suarsa Ubah Bambu Sinabun Jadi Kerajinan Bernilai Jual

0
72_modal-ketekunan-gede-suarsa-sulap-bambu-jadi-kerajinan-bernilai-seni_2026-10-10-08-36-54

Manasa Handycraft Kembangkan Produk Bambu Bermotif Budaya Bali, Berpeluang Buka Lapangan Kerja dan Perkuat Ekonomi Desa

SINGARAJA, SINGARAJANOW – Berbekal ketekunan dan kreativitas, Gede Suarsa Ariawan mampu mengolah bambu menjadi aneka produk kerajinan yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi. Melalui usaha Manasa Handycraft yang dirintis sejak 2019, warga Banjar Menasa, Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, tersebut terus mengembangkan produk berbahan bambu dengan sentuhan budaya Bali.

Usaha yang dikelola secara mandiri ini memproduksi beragam barang fungsional, di antaranya pulpen, tumbler, sedotan, dan asbak. Produk-produk tersebut dibuat dengan memanfaatkan bambu yang tersedia di lingkungan sekitar, kemudian diolah melalui sejumlah tahapan hingga menjadi kerajinan siap jual.

Gede Suarsa Ariawan menuturkan, pembuatan pulpen menjadi langkah awal dirinya menekuni usaha kerajinan bambu. Selain bahan bakunya relatif mudah diperoleh, produk tersebut juga memberinya ruang untuk mengembangkan kreativitas dalam mengolah material alami.

“Awalnya saya membuat pulpen dari bahan bambu. Bahan bakunya juga tidak terlalu sulit dicari,” ujarnya saat ditemui sedang mengerjakan produknya, Jumat (9/10).

Seiring berjalannya waktu, produk Manasa Handycraft mengalami perkembangan, tidak hanya dari segi bentuk dan fungsi, tetapi juga dari sisi estetika. Gede Suarsa memadukan kerajinan bambu dengan ornamen seni tradisional Bali, seperti gambar tokoh pewayangan yang dilukis langsung pada permukaan produk.

Pulpen bambu menjadi salah satu produk andalan yang memiliki karakter tersendiri. Proses pembuatannya diawali dengan memilih bambu kering, kemudian memotongnya sesuai ukuran. Bagian badan pulpen dibuat sepanjang kurang lebih 12 sentimeter, sedangkan tutupnya sekitar 5 sentimeter.

Setelah dipotong, bambu diamplas untuk menghasilkan permukaan yang halus. Tahapan berikutnya adalah memberikan hiasan berupa gambar atau lukisan yang dikerjakan secara manual. Teknik tersebut membuat setiap produk memiliki sentuhan khas dari pengrajinnya.

“Untuk menggambar wayangnya sekitar dua menit karena saya gambar langsung, tidak menggunakan mal,” jelasnya.

Dalam sehari, ia mampu memproduksi sekitar 20 pulpen bambu. Produk tersebut dijual dengan harga mulai Rp25 ribu per buah. Adapun harga tumbler dan jenis kerajinan lainnya disesuaikan dengan desain, bahan, serta tingkat kesulitan pengerjaan.

Dari usaha yang dijalankan, Manasa Handycraft saat ini mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp5 juta setiap bulan. Peluang untuk meningkatkan penghasilan masih terbuka, terutama apabila didukung penambahan tenaga kerja, peningkatan kapasitas produksi, serta pemasaran yang lebih luas.

Namun, keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi kendala utama. Jumlah tenaga kerja yang terbatas membuat proses produksi belum dapat ditingkatkan secara optimal. Akibatnya, keikutsertaan dalam kegiatan pameran di tingkat kabupaten juga belum bisa dilakukan secara rutin karena ketersediaan produk yang terbatas.

“Usaha kami masih sulit mencari tenaga kerja. Jadi untuk pameran di tingkat kabupaten juga masih jarang ikut karena produk kami terbatas,” ungkapnya.

Selama ini, pemasaran produk dilakukan melalui jaringan pembeli lokal dan komunikasi menggunakan aplikasi WhatsApp. Kerajinan tersebut juga mulai dikenal oleh pengunjung dari luar daerah hingga wisatawan mancanegara yang datang ke Desa Sinabun.

Gede Suarsa berharap usahanya dapat berkembang lebih besar sehingga tidak hanya menjadi sumber penghasilan pribadi, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, potensi bambu yang tersedia di desa dapat memberikan manfaat ekonomi lebih luas apabila diolah secara kreatif dan berkelanjutan.

“Saya berharap kerajinan ini bisa terus berkembang, semakin dikenal masyarakat luas, dan nantinya dapat melibatkan warga sekitar sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi desa,” harapnya.

Sementara itu, Perbekel Sinabun, Nyoman Sumanada, menilai usaha kerajinan bambu memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif desa. Potensi tersebut dinilai sesuai dengan kondisi masyarakat setempat yang sebagian besar menggantungkan aktivitas ekonominya pada sektor pertanian dalam arti luas, termasuk perkebunan dan peternakan.

Menurutnya, ketersediaan bambu di wilayah Sinabun merupakan modal yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan produk bernilai tambah. Bahan baku yang sebelumnya hanya dimanfaatkan secara sederhana berpeluang diolah menjadi kerajinan dengan nilai jual lebih tinggi.

“Harapannya inovasi pengrajin ini bisa memberdayakan masyarakat, menyerap tenaga kerja, dan membuat bahan baku yang tersedia di wilayah desa menjadi memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengembangan usaha tersebut juga berpotensi melibatkan masyarakat dalam rantai produksi. Warga yang memiliki tanaman bambu dapat berperan sebagai pemasok bahan baku, sedangkan pengrajin mengolahnya menjadi produk siap dipasarkan. Dengan pola tersebut, manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.

Pemerintah Desa Sinabun berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk mendorong perkembangan usaha. Dukungan yang dibutuhkan antara lain berupa penyediaan peralatan produksi yang lebih modern, pelatihan keterampilan, peningkatan kapasitas usaha, serta perluasan jaringan pemasaran.

Nyoman Sumanada menambahkan, produk kerajinan bambu dari Sinabun telah beberapa kali memperoleh kesempatan untuk ditampilkan dalam pameran tingkat kabupaten maupun provinsi. Keikutsertaan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan hasil kreativitas masyarakat sekaligus mempromosikan potensi desa.

“Harapan kami pemerintah atau instansi terkait bisa membantu, terutama alat-alat yang lebih canggih sehingga proses pengerjaan kerajinan bisa lebih cepat,” katanya.

Dengan dukungan yang tepat, kerajinan bambu Manasa Handycraft diharapkan mampu berkembang dari usaha rumahan menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif Desa Sinabun. Selain melestarikan kreativitas berbasis sumber daya lokal, usaha ini juga berpotensi membuka lapangan kerja dan memperkuat nilai ekonomi komoditas desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *