19.10.2026

Bupati Cup 2026 Jadi Panggung Seleksi Talenta Sepak Bola Buleleng Menuju Porprov

0
IMG-20261005-WA0009

Delapan klub dari tiga kasta Liga PSSI Buleleng bersaing di Stadion Mayor Metra untuk memperebutkan prestasi sekaligus membuka peluang pemain terbaik masuk skuad Buleleng.

SINGARAJA, SINGARAJANOW – Ajang pencarian talenta sepak bola terbaik di Kabupaten Buleleng kembali digelar. Askab PSSI Buleleng memastikan Kejuaraan Sepakbola Bupati Cup 2026 menjadi salah satu instrumen utama untuk memantau pemain potensial yang diproyeksikan memperkuat Buleleng pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali.

Turnamen yang mempertemukan klub-klub terbaik dari kompetisi internal PSSI Buleleng tersebut akan berlangsung pada 11 hingga 22 Oktober 2026 di Stadion Mayor Metra, Singaraja. Sebanyak delapan klub dari tiga kasta kompetisi lokal telah menyatakan kesiapannya untuk ambil bagian.

Dari Liga 1 PSSI Buleleng, empat tim yang akan bertanding yakni Amartha FC Patas, Putra Devata Pakisan, Putra Kubutambahan FC, dan Satria Muda Pengulon. Sementara dua wakil Liga 2 adalah Teja Harum Tejakula dan Tunas Harapan Pengastulan. Adapun Liga 3 mengirimkan Intan Jaya FC Celukan Bawang serta Sukla Bali FC Sumberklampok.

Ketua Umum Askab PSSI Buleleng, Gede Suyasa, mengatakan Bupati Cup merupakan bagian dari program pembinaan sekaligus tindak lanjut arahan KONI Buleleng untuk memperluas pemantauan terhadap pemain yang memiliki kemampuan dan prospek memperkuat tim daerah.

“Bupati Cup ini memang menjadi program yang kami jalankan setiap tahun sesuai arahan dan program KONI. Tahun ini ada delapan klub yang siap bertanding, terdiri dari empat klub Liga 1, dua Liga 2, dan dua Liga 3,” ujar Suyasa, Minggu (4/10/2026).

Menurutnya, proses pemantauan pemain tidak hanya dilakukan melalui kompetisi resmi PSSI Buleleng. Tim pemandu bakat juga tetap membuka mata terhadap berbagai turnamen independen yang digelar komunitas maupun masyarakat. Namun, Bupati Cup memiliki posisi strategis karena mempertemukan pemain dari berbagai tingkatan kompetisi dalam satu ajang.

Suyasa menjelaskan, keterlibatan klub dari Liga 2 dan Liga 3 merupakan bagian dari strategi agar proses pencarian pemain tidak hanya berpusat pada kasta tertinggi. Askab PSSI Buleleng menyilangkan klub Liga 1 dengan juara maupun runner-up Liga 2 dan Liga 3 karena menilai kualitas pemain di level teratas ketiga kasta tersebut memiliki perbedaan yang relatif tipis.

“Kami tidak ingin pencarian pemain hanya terfokus pada Liga 1. Bisa saja ada pemain yang punya potensi besar di Liga 2 atau Liga 3, tetapi tidak terlihat kalau mereka tidak diberikan kesempatan. Karena itu, kami ingin memperluas jangkauan talent scouting,” jelasnya.

Selain menjadi arena seleksi pemain, Bupati Cup 2026 juga diharapkan mampu menjadi tolok ukur terhadap keberlanjutan pembinaan di masing-masing klub. Pertemuan lintas kasta memungkinkan kualitas pembinaan setiap tim diuji secara langsung melalui pertandingan kompetitif.

Bahkan, apabila klub dari kasta lebih rendah mampu mengalahkan tim Liga 1, hal tersebut dinilai dapat menjadi bahan evaluasi bagi klub kasta utama. Sebab, hasil pertandingan dapat memberikan gambaran mengenai sejauh mana proses regenerasi dan pembinaan pemain berjalan secara konsisten.

“Kalau sampai klub Liga 1 dikalahkan klub Liga 2 atau Liga 3, tentu itu menjadi evaluasi dari sisi pembinaan. Ada gengsi yang dipertaruhkan, tetapi jangan sampai gengsi itu menjadi tujuan utama. Yang paling penting bagi kami adalah bagaimana menemukan pemain terbaik yang nantinya bisa memberikan kontribusi untuk Buleleng,” tegas Suyasa.

Dengan format tersebut, Bupati Cup 2026 tidak sekadar menjadi kompetisi antarklub. Turnamen ini diharapkan menjadi ruang bagi pemain-pemain muda dan potensial untuk menunjukkan kemampuan secara langsung sekaligus membuka jalan menuju skuad sepak bola Buleleng pada Porprov Bali mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *