MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 Resmi Dibuka, Pemkab Buleleng Perkuat Pendidikan Karakter dan Sekolah Ramah Anak

SHARE
Sebanyak 28.371 peserta didik baru dari jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP mengikuti MPLS Ramah yang berlangsung selama lima hari dengan penekanan pada pembentukan karakter, pencegahan perundungan, serta pemanfaatan teknologi secara bijak.

SINGARAJA, SINGARAJANOW – Pemerintah Kabupaten Buleleng secara resmi memulai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 yang digelar serentak di seluruh satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP. Pembukaan dipusatkan di SMP Negeri 3 Banjar dan dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, yang hadir mewakili Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra.

Pelaksanaan MPLS Ramah tahun ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Program tersebut dirancang sebagai langkah awal bagi peserta didik baru untuk mengenal lingkungan sekolah, membangun karakter positif, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan inklusif.

Dalam sambutannya, Kadis Disdikpora Buleleng Ida Bagus Gde Surya Bharata menegaskan bahwa MPLS bukan sekadar agenda pengenalan sekolah, tetapi juga menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang siap menghadapi perkembangan zaman.

“Melalui MPLS Ramah, kami ingin menanamkan nilai-nilai disiplin, integritas, dan tanggung jawab sejak dini. Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik, bebas dari perundungan, kekerasan, maupun berbagai perilaku negatif lainnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, para siswa baru diharapkan mampu memanfaatkan masa pengenalan sekolah untuk memahami tata tertib, budaya sekolah, serta menjalin hubungan sosial yang sehat. Selain itu, peserta didik juga didorong untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Pemerintah Kabupaten Buleleng juga menaruh perhatian besar terhadap pemanfaatan teknologi di kalangan pelajar. Oleh sebab itu, siswa diimbau menggunakan perangkat digital secara bijaksana dan bertanggung jawab, sekaligus menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan sekolah.

Di sisi lain, Disdikpora menekankan kepada guru dan panitia penyelenggara agar seluruh rangkaian MPLS dilaksanakan secara edukatif, menyenangkan, dan ramah anak tanpa adanya praktik perpeloncoan maupun hukuman fisik. Materi yang diberikan juga mencakup penguatan budaya Bali, pendidikan karakter, serta sosialisasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba, judi daring, dan dampak negatif media sosial.

“Keberhasilan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Dukungan orang tua melalui komunikasi yang baik, pendampingan selama masa transisi, dan pengawasan penggunaan gawai menjadi faktor penting dalam membentuk generasi yang berkualitas,” tambah Surya Bharata.

Sementara itu, Ketua Komite Widya Santi SMP Negeri 3 Banjar, Nyoman Aryawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Pemerintah Kabupaten Buleleng yang menunjuk sekolahnya sebagai lokasi pembukaan MPLS Ramah tahun ini. Menurutnya, hal tersebut menjadi dorongan bagi seluruh warga sekolah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara sekolah, komite, orang tua, dan pemerintah harus terus diperkuat agar setiap tantangan dalam dunia pendidikan dapat diselesaikan secara bersama-sama.

“Kami berharap sinergi yang telah terbangun dapat terus dipertahankan sehingga mampu melahirkan generasi Buleleng yang unggul, sehat, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” kata Aryawan.

Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 28.371 peserta didik baru mengikuti MPLS di Kabupaten Buleleng. Jumlah tersebut terdiri atas 8.199 siswa jenjang PAUD/TK, 10.018 siswa SD, dan 10.809 siswa SMP.

Kegiatan MPLS berlangsung selama lima hari, mulai 13 hingga 17 Juli 2026. Selama pelaksanaan, para peserta didik akan mendapatkan berbagai materi, di antaranya Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, program Pagi Ceria, etika bermedia sosial, budaya senyum, salam, sapa, sopan, dan santun, serta Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).