
SINGARAJA, SINGARAJANOW – Festival seni budaya Singa Kren Fest 2026 (Singaraja Kreatif Seni Festival) akan digelar pada 8–10 Mei 2026 di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng dengan mengusung tema “Purwaning Sastrotsawa Pragati”, yang bermakna nilai budaya, tradisi, dan filsafat sebagai awal kemajuan sekaligus cikal bakal kemajuan Kabupaten Buleleng. Selasa (5/5)
Hal tersebut disampaikan dalam pemaparan pada Selasa, 5 Mei 2026 di Coffeeshop Labasa, Jalan Teleng Indah, oleh Camat Buleleng, Putu Gopi Suparnaca, S.Sos.
Festival ini hadir sebagai ruang kolaboratif yang mempertemukan berbagai unsur budaya dalam satu panggung akulturasi yang inklusif dan dinamis.
Singa Kren Fest 2026 secara khusus mengangkat akulturasi budaya Bali dengan etnis Tionghoa, Muslim Arab, serta Bugis yang telah lama hidup berdampingan di Buleleng.
Perpaduan ini ditampilkan melalui ragam kesenian seperti Gong Kebyar, Barong Sai, hingga Hadrah yang mencerminkan harmoni lintas budaya dan sejarah panjang interaksi masyarakat pesisir Buleleng.
Keterlibatan ibu-ibu PKK dari 12 desa dan 17 kelurahan turut memperkuat semangat kebersamaan dalam menyambut Bupati dan Wakil Bupati Buleleng beserta rombongan pada pembukaan festival.
Pembukaan festival akan diawali dengan penampilan Tari Kolosal “Sarwada Singa Denbukit” garapan I Gusti Ngurah Eka Prasetya dari Sanggar Seni Santhi Budaya, yang mengangkat identitas Denbukit melalui pendekatan akulturasi budaya.
Tidak hanya menampilkan seni tradisi, Singa Kren Fest juga membuka ruang kreatif bagi generasi muda melalui kompetisi esport, penguatan UMKM lokal (kuliner, agro, fashion, dan kriya), serta edukasi pengelolaan sampah bersama Rumah Plastik Mandiri.
Kegiatan ini sejalan dengan program prioritas Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam pengembangan seni budaya dan ekonomi kreatif. Berbagai rangkaian acara akan digelar selama tiga hari, mulai dari pertunjukan seni, lomba komunitas, kegiatan kesehatan, fun run, donor darah, hingga hiburan musik modern yang melibatkan seniman lokal.
Camat Buleleng, Putu Gopi Suparnaca, S.Sos., menegaskan bahwa festival ini menjadi wujud nyata kekuatan keberagaman budaya di Buleleng.
“Singa Kren Fest 2026 merupakan representasi nyata akulturasi budaya yang hidup di Buleleng, mulai dari Bali, Tionghoa, Muslim Arab hingga Bugis.
Keberagaman ini bukan sekadar identitas, tetapi menjadi energi besar dalam membangun kreativitas, memperkuat persatuan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kami ingin menjadikan festival ini sebagai ruang bersama bagi seluruh elemen, khususnya generasi muda, untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya,” ujarnya.
Dengan konsep yang memadukan tradisi dan modernitas, Singa Kren Fest 2026 diharapkan mampu menghidupkan kembali kawasan Pelabuhan Tua Buleleng sebagai pusat aktivitas budaya, ekonomi kreatif, serta destinasi wisata berbasis kearifan lokal.
