
SINGARAJA, SINGARAJANOW – Rumah pohon yang berada di kawasan Setra Desa Adat Buleleng, Kota Singaraja, yang dahulu berfungsi sebagai pos pemantauan kapal di Pelabuhan Buleleng, kini resmi beralih fungsi menjadi destinasi pariwisata heritage. Keberadaan bangunan ini menjadi saksi bisu sejarah panjang Buleleng sebagai pusat perdagangan sekaligus pintu masuk utama Bali bagian utara pada masa lampau.
Rumah pohon bersejarah tersebut telah direnovasi sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah sekaligus pengembangan wisata budaya. Proses renovasi dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai historis dan kearifan lokal agar jejak masa lalu yang melekat pada bangunan tersebut tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Peresmian rumah pohon dilaksanakan pada Sabtu, 1 Februari 2026, oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng, Ny. Wardani Sutjidra. Kegiatan ini bertepatan dengan pelaksanaan program Aksi Kulkul PKK. Sejak pukul 06.00 WITA, krama Desa Adat Buleleng tampak bergotong royong melakukan pembersihan di kawasan setra sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian lingkungan dan sejarah.
Di sela-sela kegiatan peresmian, Ny. Wardani Sutjidra mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan situs-situs bersejarah yang ada di Buleleng, khususnya rumah pohon Setra Desa Adat Buleleng. Pada kesempatan tersebut, ia juga mensosialisasikan program PKK “Lima Bintang Kebersihan Sampah” kepada masyarakat.
“Rumah pohon ini memiliki sejarah yang bermakna bagi masyarakat Buleleng. Dahulu difungsikan sebagai pos pengintaian kapal yang masuk ke Pelabuhan Buleleng, namun kini akan menjadi spot pariwisata heritage yang edukatif,” ujarnya.
Renovasi rumah pohon wisata ini mulai dilakukan pada 18 Januari 2026. Proses pembenahan dilaksanakan secara hati-hati agar karakter asli bangunan tetap terjaga, sekaligus memastikan aspek keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung.
Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, menjelaskan bahwa rumah pohon di Setra Desa Adat Buleleng akan diarahkan menjadi salah satu daya tarik wisata berbasis sejarah dan budaya di Kota Singaraja. Dalam waktu dekat, pihak desa adat berencana menambahkan akses tangga agar masyarakat dan wisatawan dapat naik ke rumah pohon tersebut.
“Ke depan, rumah pohon ini tidak hanya menjadi tempat berfoto, tetapi juga sebagai ruang edukasi yang menceritakan peran penting Buleleng pada masa lalu, khususnya terkait sejarah pelabuhan dan perjuangan masyarakat dalam menjaga wilayah,” ungkapnya.
Sementara itu, Pengelola Setra Desa Adat Buleleng, Ketut Suryada, berharap keberadaan rumah pohon bersejarah ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Buleleng, terutama dalam pengembangan city tour Kota Singaraja.
“Kami bertanggung jawab memelihara setra sekaligus rumah pohon ini. Harapan kami, kunjungan wisatawan semakin meningkat sehingga masyarakat luas dapat mengenal sisi sejarah Buleleng,” jelasnya.
