Wacana pemindahan penegakan Hari Raya Suci Nyepi keTilem Kesanga kembali mencuat ke ruang publik. Sekilas, gagasan ini terdengar seperti upaya “pengembalian ke tradisilama”. Namun jika ditelaah secara akademik melalui perspektif wariga, sastra agama, dan sejarah keputusan keagamaan Hindu Bali wacana tersebut justru bertentangan dengan fondasi tradisiitu sendiri. Apa yang diklaim sebagai “tradisi lama” sesungguhnya adalah fragmen tafsir singkat dalam sejarah, bukan struktur tradisi Hindu Bali yang utuh dan berkesinambungan. Dalam seluruh sistem wariga Bali klasik, Tilem Kesangatidak pernah diposisikan sebagai hari Nyepi. Tilem Kesangaadalah rahina Tawur Kesanga, puncak Bhuta Yadnya, saat Bhuta Kala dipralina dan diseimbangkan melalui caru dan tawur. Sementara itu, Nyepi secara konsisten ditempatkan seharisetelahnya, pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa, sebagai haribrata, tapa, dan yoga spiritual. Menyamakan Tawur Kesangadengan Nyepi merupakan kesalahan konseptual serius yang mengaburkan batas antara ritus kosmik (Bhuta Yadnya) […]